Subaru mengumumkan bahwa BRZ model tahun 2027 akan hadir dengan transmisi manual enam percepatan sebagai pilihan standar. Sementara itu, transmisi otomatis justru menjadi opsi upgrade yang harus dibayar lebih mahal oleh konsumen. Langkah ini kontras dengan arah industri mobil sport global yang perlahan meninggalkan tuas persneling tradisional.
Sepuluh tahun lalu, pembeli yang mencari mobil sport berpenggerak roda belakang di bawah 40.000 dolar AS masih punya beberapa pilihan solid. Kini, daftar itu menyusut drastis. Sebagian besar pabrikan beralih ke transmisi otomatis sebagai standar, dan manual hanya ditawarkan sebagai opsi mahal bagi para penggemar sejati.
Subaru memilih jalur sebaliknya. Dengan menjadikan manual sebagai standar, BRZ 2027 menjadi semacam memo yang tidak dibaca oleh pabrikan lain. Ini bukan sekadar keputusan teknis, melainkan pernyataan posisi terhadap segmen pengemudi yang masih menginginkan kendali penuh.
Bagi penggemar otomotif di Indonesia, kelangkaan mobil sport manual bukan sekadar berita global. Di pasar lokal, model seperti Toyota GR 86—saudara kembar BRZ—juga mengikuti tren serupa. Opsi transmisi manual perlahan menghilang dari daftar pilihan, digantikan oleh otomatis yang lebih mudah dikendarai sehari-hari.
Keputusan Subaru mempertahankan tuas kopling di BRZ 2027 bisa menjadi angin segar. Namun, belum ada kepastian apakah model ini akan masuk ke Indonesia dan dengan konfigurasi yang sama. Jika benar-benar hadir, harganya diperkirakan berada di kisaran Rp 800 jutaan, berdasarkan konversi dari harga pasar global.
Pergeseran ini bukan tanpa alasan. Efisiensi bahan bakar, kemudahan produksi, dan permintaan pasar yang lebih luas mendorong pabrikan memprioritaskan transmisi otomatis. Di Amerika Serikat, misalnya, penjualan mobil manual hanya menyumbang kurang dari dua persen total pasar kendaraan baru.
Subaru tampaknya membaca segmen yang berbeda. BRZ adalah mobil yang dibangun untuk sensasi berkendara, bukan sekadar alat transportasi. Dengan mempertahankan manual sebagai standar, perusahaan asal Jepang ini menegaskan bahwa masih ada ruang bagi mereka yang menolak untuk beralih sepenuhnya ke otomatis.
Langkah Subaru bisa memicu efek domino. Jika BRZ 2027 mendapat sambutan positif, pabrikan lain mungkin akan mempertimbangkan kembali strategi mereka. Namun, jangan berharap perubahan besar dalam waktu dekat—ekonomi skala dan regulasi emisi tetap menjadi tekanan utama yang membuat manual kian mahal untuk diproduksi.
Untuk saat ini, BRZ 2027 berdiri sebagai perlawanan simbolis terhadap homogenisasi industri. Sebuah pengingat bahwa di tengah gempuran otomatisasi, masih ada mobil yang lahir untuk dikendalikan—bukan sekadar dikendarai.