Ekspedisi Wallace di Dodinga Halmahera Barat Jadi Agenda FTJ 2026, 40 Peserta Telusuri Jejak Naturalis Inggris

Penulis: Edi Wahyono  •  Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:59:31 WIB
Peserta Ekspedisi Wallace menelusuri Benteng Dodinga sebagai bagian dari Festival Teluk Jailolo 2026.

HALMAHERA BARAT — Jejak Alfred Russel Wallace, naturalis Inggris yang mengguncang dunia sains dengan teori evolusi melalui seleksi alam, kembali dihidupkan di Maluku Utara. Melalui Ekspedisi Wallace yang digelar Kamis (18/6/2026), Desa Dodinga, Halmahera Barat, menjadi pusat perhatian para pegiat sejarah dan sains.

Ekspedisi ini merupakan agenda resmi Festival Teluk Jailolo (FTJ) 2026. Sekretaris Daerah Halmahera Barat sekaligus Ketua Pelaksana FTJ 2026, Julius Marau, menegaskan kegiatan ini dirancang sebagai sarana edukasi sejarah bagi generasi muda.

“Dodinga menyimpan nilai sejarah yang luar biasa. Melalui ekspedisi ini, kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa daerah ini pernah menjadi ruang penelitian yang berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia,” ujar Julius dalam keterangannya.

Menyusuri Benteng Dodinga dan Kawasan Hayati Warisan Wallace

Para peserta diajak menyusuri lokasi-lokasi bersejarah yang pernah menjadi laboratorium alam Wallace pada pertengahan abad ke-19. Dua titik utama yang dikunjungi adalah Benteng Dodinga dan kawasan pengamatan keanekaragaman hayati di sekitar desa.

Di kawasan inilah Wallace mengamati flora dan fauna endemik Maluku Utara. Hasil pengamatannya kemudian dituangkan dalam naskah ilmiah yang dikirimkan kepada Charles Darwin pada 1858—sebuah tonggak penting dalam kelahiran teori evolusi modern.

Warisan Sains yang Dikemas Menjadi Eko Edu Wisata

Pemerintah daerah tidak hanya berhenti pada napak tilas. Julius Marau menyebut kawasan Dodinga berpotensi besar dikembangkan menjadi destinasi Eko Edu Wisata yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, konservasi, dan pariwisata berkelanjutan.

“Pengenalan kembali jejak sejarah ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat identitas Halmahera Barat di kancah internasional,” tambahnya.

Perwakilan Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Utara, Azis Momanda, yang turut memberikan penjelasan lapangan, menekankan bahwa warisan terbesar Wallace bukan sekadar catatan ilmiah. Lebih dari itu, cara pandang Wallace dalam menjaga hubungan antara manusia dan alam menjadi pelajaran yang relevan hingga kini.

Pelestarian Situs dan Lingkungan Jadi Tanggung Jawab Bersama

Azis mengingatkan bahwa pelestarian situs sejarah dan lingkungan di Dodinga kini menjadi tanggung jawab bersama. Tanpa upaya kolektif, nilai-nilai edukasi yang terkandung di dalamnya sulit diwariskan ke generasi mendatang.

Ekspedisi ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang: pelajar, mahasiswa, peneliti sejarah, hingga masyarakat umum. Mereka tidak hanya diajak berjalan kaki, tetapi juga mendapatkan pemaparan langsung tentang kontribusi Wallace terhadap ilmu biologi modern.

Dengan masuknya Ekspedisi Wallace ke dalam agenda FTJ 2026, pemerintah daerah berharap Dodinga tidak lagi hanya dikenal sebagai desa biasa di pesisir Halmahera Barat, melainkan sebagai titik penting dalam peta sejarah sains dunia.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: tandaseru.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top