MALUKU UTARA — Penyelidikan yang dilakukan oleh dinas kesehatan distrik Krishnagiri ini berjalan sejak akhir Mei 2024. Petani di sekitar pabrik yang memproduksi bagian belakang iPhone dan beberapa komponen lainnya itu mengeluhkan masalah kulit yang mereka duga berasal dari kontaminasi lahan pertanian.
Meski demikian, seorang pejabat medis pemerintah mengakui belum ada kasus yang terbukti secara klinis terkait keluhan tersebut. Hal ini diungkapkan dalam laporan Reuters yang dirilis pekan ini.
Dalam surat tertanggal 27 Mei 2024, Anish Parvin, pejabat medis pemerintah di desa Ullugurukkai—lokasi pabrik berdiri—menyebutkan adanya temuan inspeksi kesehatan. "Air limbah yang dilepaskan dari Tata Electronics telah terakumulasi di lahan pertanian di dekatnya dan mencemari air bersih yang ada di sumur-sumur terdekat," tulis Parvin dalam surat yang ditujukan ke Institute of Vector Control and Zoonoses di Hosur.
Surat tersebut juga mencatat bahwa air limbah dari pabrik menimbulkan "bau menyengat yang parah" dan membuat air "tidak layak untuk diminum hewan." Parvin juga menambahkan bahwa telah dilaporkan adanya masalah kesehatan kulit yang dialami warga akibat kontaminasi ini.
Temuan semakin menguat setelah laporan laboratorium yang diperoleh Reuters menunjukkan dua sampel air dari lahan pertanian di dekat pabrik positif mengandung bakteri E. coli. Bakteri ini biasanya ditemukan di limbah tinja dan menandakan adanya kontaminasi feses pada sumber air.
Ketegangan sempat terjadi ketika seorang anggota kelompok petani memasuki area pabrik Tata untuk memotret kolam yang diduga berisi air limbah. Seorang petugas keamanan dilaporkan mengambil senjata api dari kendaraannya saat menghadapi insiden tersebut.
Sebelumnya, Tata Electronics mengklaim bahwa sampel air terbaru yang diambil di dalam pabrik tidak menunjukkan tanda-tanda kontaminasi. Pemasok Apple ini juga menyatakan bahwa Otoritas Pengendalian Pencemaran Tamil Nadu telah menghentikan tindakan lebih lanjut terhadap pabrik setelah perusahaan menanggapi semua pertanyaan dalam surat peringatan sebelumnya.
Namun, penyelidikan dari dinas kesehatan ini membuktikan bahwa pengawasan terhadap dugaan pencemaran belum sepenuhnya selesai. Baik Apple maupun Tata belum memberikan tanggapan resmi terkait penyelidikan terbaru ini.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa rantai pasok raksasa teknologi dunia tetap harus berhadapan dengan regulasi lingkungan dan protes masyarakat setempat, terlepas dari klaim kepatuhan yang telah disampaikan perusahaan.