MALUKU UTARA — Rentetan laporan keuangan BUMN yang dirilis Danantara Indonesia menunjukkan tren pemulihan yang kuat. Dari sebelas perusahaan pelat merah yang datanya dipublikasikan, mayoritas mencatatkan pertumbuhan laba dua digit, bahkan ada yang berhasil membalikkan keadaan dari posisi merugi menjadi untung.
Pertamina kembali menjadi penyumbang laba terbesar dengan torehan Rp 24,9 triliun pada April 2026. Angka ini melesat 80% atau setara Rp 11 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sektor perbankan, Bank Mandiri mencatat laba Rp 21,3 triliun, naik 33% atau Rp 74 miliar dari April 2025. BRI tak kalah impresif dengan laba Rp 21,2 triliun, tumbuh 15% atau Rp 2,8 triliun. Sementara BNI membukukan laba Rp 7,2 triliun, meningkat 6% atau Rp 381 miliar.
Kinerja mengejutkan datang dari Pupuk Indonesia yang labanya melonjak 202% menjadi Rp 4,8 triliun, dari sebelumnya Rp 1,6 triliun. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi secara persentase di antara BUMN lainnya.
PT Pelindo (Persero) juga mencatatkan pertumbuhan solid. Laba perusahaan pelabuhan ini mencapai Rp 1,5 triliun pada April 2026, naik 169% atau Rp 900 miliar dari posisi April 2025.
Dua BUMN yang sebelumnya tertekan berhasil menunjukkan pemulihan. Krakatau Steel membukukan laba Rp 635 miliar, berbanding terbalik dengan kerugian Rp 981 miliar pada April 2025. Kimia Farma juga mencatat laba Rp 108 miliar, setelah sebelumnya merugi Rp 160 miliar.
Adhi Karya mencatatkan pertumbuhan laba paling spektakuler secara persentase, yakni 667% menjadi Rp 69 miliar dari sebelumnya Rp 9 miliar. Sementara Semen Indonesia berhasil keluar dari zona merah dengan laba Rp 106 miliar, membaik dari rugi Rp 6 miliar.
Rohan Hafas menjelaskan, realisasi investasi strategis Danantara berasal dari dividen BUMN yang diterima pada 2025. Dana tersebut telah dialokasikan untuk beberapa proyek, termasuk pengembangan ekosistem haji dan umrah di Makkah serta proyek waste-to-energy (WTE).
"Seluruh investasi tersebut dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip tata kelola yang baik, disiplin investasi, pengelolaan risiko yang prudent, serta orientasi pada penciptaan nilai jangka panjang bagi negara dan masyarakat," ujar Rohan dalam keterangan resmi, Kamis (2/7).
Adapun laporan keuangan konsolidasi Danantara Indonesia untuk tahun buku 2025 masih dalam proses audit dan akan disampaikan setelah seluruh tahapan rampung sesuai ketentuan perundang-undangan.