MALUKU UTARA — Donald Trump akhirnya memainkan peran utama di turnamen yang dijuluki "Geopolitics World Cup" (GWC). Setelah absen dari tribun penonton sepanjang turnamen, Gedung Putih mengonfirmasi kehadirannya di partai final antara Spanyol dan Argentina. Ini bukan pertama kalinya Trump tampil di panggung sepak bola global; tahun lalu, ia ikut serta dalam seremoni pengangkatan trofi Copa Gianni bersama Presiden FIFA Gianni Infantino.
Pengalaman Trump di final tahun lalu menyisakan cerita aneh. Saat Enzo Maresca membawa Chelsea menaklukkan Paris Saint-Germain, Trump dan Infantino naik ke podium untuk memberikan trofi kepada Reece James. Namun, saat Infantino berusaha turun panggung sesuai protokol, Trump justru "menempel" di posisinya, berfoto di antara kiper Robert Sánchez dan gelandang Cole Palmer yang tampak bingung.
"Saya tahu dia akan datang, tapi saya tidak tahu dia akan naik ke podium saat kami mengangkat trofi. Saya agak bingung," ujar Palmer saat itu. Sorak-sorak negatif pun terdengar, mirip dengan yang terjadi saat Trump menonton New York Knicks di NBA Finals. Trump, seperti biasa, membantahnya dengan klaim bahwa "teriakan itu sebagian besar adalah sorakan."
Di tengah hiruk-pikuk politik, sepak bola menyajikan narasi yang jauh lebih puitis. Lionel Messi dan Lamine Yamal akan kembali bertemu di lapangan, 19 tahun setelah foto ikonik mereka untuk kalender amal UNICEF. Saat itu, Messi yang berusia 20 tahun menggendong bayi Yamal. Kini, anak tersebut telah menjadi penerus spiritual Messi di Barcelona, mengenakan nomor punggung 10, dan akan berhadapan dengan sang maestro di final Piala Dunia.
Momen pelukan mereka setelah pertandingan nanti diprediksi akan menjadi buruan para fotografer. "Berdoalah agar tidak ada yang mencoba photobomb. 'Um, permisi, Presiden Trump... Anda menghalangi bidikan,'" tulis kolom Football Daily, mengingatkan potensi ulah Trump yang kembali mencuri perhatian.
Sementara Trump memilih tampil di stadion, Presiden Argentina Javier Milei punya pendekatan berbeda. Milei mengaku tidak akan hadir di final karena takut merusak "ritual" keberuntungannya. "Saya akan terus menonton semua pertandingan dari Olivos. Karena cuaca dingin dan saya tidak menyalakan pemanas, saya memakai jaket bermerek perusahaan minyak. Saat pertandingan Swiss, saya kepanasan. Saya melepas jaket itu, dan mereka mencetak gol ke gawang kami. Saya pakai lagi dan tidak pernah melepasnya lagi," ungkap Milei. Sebuah pengakuan yang menunjukkan bahwa takhayul kadang lebih kuat dari protokol kenegaraan.