5 Festival Budaya Maluku Utara yang Wajib Masuk Agenda Perjalananmu

Penulis: Dedi Supriadi  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:16:01 WIB
Ribuan penari dari berbagai desa di Halmahera Barat tampil dalam formasi raksasa pada puncak Festival Legu Gam di Pantai Jailolo.

Maluku Utara sering disebut sebagai "rempah-rempah dunia" yang memicu penjelajahan samudra Eropa berabad-abad lalu. Di balik itu, provinsi kepulauan ini menyimpan kekayaan tradisi yang hidup berdampingan dengan jejak empat kesultanan besar: Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Warisan itu tidak dibiarkan menjadi fosil; ia dirawat lewat perayaan tahunan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Bagi perantau yang pulang kampung atau wisatawan yang kebetulan singgah, festival-festival ini menawarkan pengalaman yang tidak bisa didapat dari sekadar mengunjungi benteng tua atau museum. Berikut lima perayaan yang paling layak diperjuangkan untuk disaksikan.

1. Legu Gam: Panggung Akbar dari Barat Maluku Utara

Legu Gam adalah festival tahunan yang berpusat di Kabupaten Halmahera Barat, dengan puncak acara di kawasan Pantai Jailolo. Nama "Legu Gam" sendiri berarti "kampung kita" dalam bahasa setempat, sebuah penegasan bahwa perayaan ini milik semua orang. Festival ini biasanya digelar pada bulan Mei, bertepatan dengan hari jadi daerah tersebut.

Yang membuat Legu Gam berbeda adalah penampilannya yang spektakuler: ribuan penari dari berbagai desa di Halmahera Barat turun ke pantai dengan kostum warna-warni, menari dalam formasi raksasa. Ada juga ritual "Tolak Bala" yang dilakukan di atas perahu, serta pameran UMKM yang menjual kerajinan dan kuliner khas. Jadwal pastinya berubah tiap tahun, jadi cek informasi resmi pemerintah daerah sebelum merencanakan kunjungan.

2. Festival Teluk Jailolo: Perayaan Lintas Agama dan Etnis

Jangan tertukar dengan Legu Gam. Festival Teluk Jailolo adalah event yang lebih besar, biasanya digelar di awal April, memanfaatkan keindahan teluk yang dikelilingi pulau-pulau kecil. Acara ini digagas untuk mempromosikan pariwisata sekaligus merayakan harmoni masyarakat Halmahera Barat yang terdiri dari berbagai latar belakang.

Puncak acaranya adalah atraksi "Tarik Utas", yaitu adu tarik tambang raksasa antara warga yang dibagi menjadi dua kelompok, melambangkan keseimbangan alam. Ada juga parade perahu hias yang dihiasi daun kelapa dan bunga. Suasana di sekitar pelabuhan Jailolo akan sangat ramai, jadi siapkan waktu ekstra untuk menikmati kuliner jagung bakar dan ikan segar yang dijajakan di sepanjang pantai.

3. Prosesi Dero: Tarian Massal dari Pesisir Tobelo

Dero adalah tarian pergaulan khas masyarakat Tobelo di Halmahera Utara, dan festival ini mengangkat tarian tersebut sebagai pusat perhatian. Biasanya digelar di akhir pekan, melibatkan ratusan warga yang membentuk lingkaran besar sambil bergandengan tangan. Gerakannya sederhana tetapi kompak, diiringi tabuhan gong dan tifa.

Keunikan Dero terletak pada partisipasinya yang terbuka. Siapa pun boleh ikut masuk ke dalam lingkaran, termasuk wisatawan. Jika kamu kebetulan berada di Tobelo saat acara berlangsung, jangan ragu untuk bergabung. Ini cara paling cepat untuk merasakan kehangatan masyarakat pesisir yang terkenal ramah.

4. Pesta Panah dan Ritual Laut di Kepulauan Sula

Berbeda dari festival di Maluku Utara bagian barat, Kepulauan Sula memiliki tradisi yang lebih tenang tetapi sarat makna. Di sini, panah bukan sekadar senjata, melainkan alat untuk menjaga keseimbangan alam. Beberapa desa adat masih menggelar ritual memanah ikan di laut dangkal sebagai bentuk syukur, yang kemudian menjadi atraksi wisata.

Ritual ini biasanya dilakukan oleh tetua adat dengan doa-doa khusus sebelum panah dilepaskan. Waktu pelaksanaannya tidak menentu dan sering kali mengikuti musim. Untuk menyaksikannya, kamu perlu menghubungi pengelola desa wisata setempat atau datang pada saat perayaan hari besar Islam, karena biasanya ritual ini dirangkaikan dengan acara keagamaan.

5. Peringatan Maulid di Ternate: Gabungan Ritual dan Kirab

Ternate sebagai kota kesultanan memiliki cara tersendiri merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Perayaan ini bukan hanya pengajian, tetapi dimeriahkan dengan pawai "Ukir" — replika gunung atau perahu yang terbuat dari makanan dan buah-buahan. Pawai ini diarak dari keraton menuju masjid, melibatkan keluarga kesultanan dan ribuan warga.

Setelah pawai, makanan yang diarak tersebut menjadi rebutan warga sebagai simbol berkah. Momen ini biasanya berlangsung di bulan Rabiul Awal dalam kalender Hijriah, jadi tanggal pastinya bergeser setiap tahun. Pastikan kamu mengecek kalender Islam sebelum terbang ke Ternate.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan waktu terbaik mengunjungi Maluku Utara untuk melihat festival?
Bulan April hingga Juni adalah puncaknya. Festival Teluk Jailolo biasanya di April, Legu Gam di Mei, dan beberapa ritual adat di Sula sering jatuh di bulan-bulan tersebut. Hindari musim hujan ekstrem sekitar Desember-Februari.

Apakah festival-festival ini gratis untuk ditonton?
Sebagian besar area pertunjukan terbuka dan gratis. Namun, untuk beberapa acara seperti Legu Gam, mungkin ada sektor VIP yang dijual tiketnya. Untuk informasi akurat, cek akun media sosial resmi Dinas Pariwisata setempat.

Apa yang harus disiapkan saat menghadiri festival di Maluku Utara?
Bawalah topi atau payung karena acara biasanya berlangsung di ruang terbuka dengan terik matahari. Uang tunai dalam pecahan kecil juga penting, karena banyak pedagang kaki lima tidak menerima pembayaran digital.

Bagaimana cara terbaik mencapai lokasi festival?
Antar kota di Maluku Utara dihubungkan oleh kapal cepat dan pesawat perintis. Dari Ternate, kamu bisa naik kapal cepat ke Jailolo yang hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Untuk ke Tobelo, perjalanan darat dari Jailolo bisa memakan waktu 3-4 jam.

Menonton festival di Maluku Utara adalah cara paling jujur untuk memahami denyut nadi masyarakatnya. Di sana, kamu tidak hanya melihat pertunjukan, tetapi juga menyaksikan bagaimana sejarah, agama, dan alam dirajut menjadi satu identitas yang bangga. Rencanakan dari jauh, hormati adat setempat, dan biarkan perayaan itu berbicara untuk dirinya sendiri.

Reporter: Dedi Supriadi
Back to top