MALUKU UTARA — Taiwan menjadi salah satu kantong terbesar diaspora Indonesia dengan nilai kiriman uang yang mencapai US$2,97 miliar pada 2025—lebih dari dua kali lipat dibandingkan capaian 2021 yang sebesar US$1,37 miliar. Jika dikonversi dengan kurs sekitar Rp16.000 per dolar AS, total remitansi tersebut setara Rp47-48 triliun.
Besarnya arus dana ini mendorong BRI menghadirkan ekosistem layanan yang menjangkau kebutuhan PMI sejak sebelum keberangkatan, selama bekerja di Taiwan, hingga pengiriman dana ke keluarga di Indonesia. Peluncuran BRImo Taiwan memungkinkan diaspora mengakses transaksi harian dan transfer dana ke Tanah Air dalam satu aplikasi.
Penguatan layanan digital ini melanjutkan ekspansi BRI di Taiwan setelah membuka kantor cabang resmi setahun lalu. Kinerja BRI Taipei Branch terbilang impresif—total asetnya kini menembus US$408 juta dan telah melayani lebih dari 3.400 rekening hingga akhir Juli 2026.
Corporate Secretary BRI Dhanny menegaskan bahwa kehadiran perusahaan di Taiwan bukan sekadar ekspansi bisnis, melainkan upaya membangun konektivitas finansial yang lebih dekat dengan masyarakat Indonesia yang bekerja di sana.
“Kehadiran BRI di Taiwan bukan semata tentang membuka kantor atau menghadirkan layanan digital. Ini adalah tentang hadir lebih dekat dengan masyarakat Indonesia yang bekerja, berkarya, dan membangun masa depan di Taiwan. Kami ingin BRI menjadi jembatan yang menghubungkan kebutuhan finansial diaspora di Taiwan dengan keluarga dan berbagai kebutuhan finansial di Indonesia,” ungkap Dhanny.
BRI tidak berhenti pada layanan transaksi. Perusahaan mendorong PMI mengelola penghasilan secara produktif—bukan sekadar untuk kebutuhan harian, tetapi juga tabungan, investasi, aset, hingga modal usaha saat kembali ke Indonesia.
Kisah Sri Purwanti, nasabah BRI asal Cilacap yang merantau ke Taiwan belasan tahun lalu, menjadi contoh nyata. Berawal dari kesulitan mencari makanan halal, ia disiplin menyisihkan penghasilan sedikit demi sedikit hingga akhirnya mengumpulkan modal untuk merintis usaha kuliner halal.
“Waktu pertama kali jadi pekerja migran, mencari makanan halal itu luar biasa sulit. Dari situ saya berpikir, teman-teman pekerja lain pasti merasakan kesulitan yang sama. Saya bertekad menyisihkan sebagian penghasilan, menabung sedikit demi sedikit, dan belajar mengelola keuangan,” kenang Sri.
Perjalanannya kini berbuah Kedai Sri Rahayu di Zhongzheng District, Taipei—bukti bahwa masa bekerja di luar negeri dapat membuka peluang ekonomi baru ketika penghasilan dikelola secara terencana.
Sejalan dengan semangat pemberdayaan tersebut, BRI Peduli—payung program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI—menghadirkan “BRI Peduli Go Global PMI Entrepreneur Academy: Building Skills, Creating Opportunities”. Program ini membuka kesempatan bagi 120 PMI di Taiwan untuk memperoleh keterampilan praktis kewirausahaan yang bisa dikembangkan lebih lanjut.
Dukungan layanan juga diperkuat melalui jaringan BRILink Agen di dalam negeri, sehingga keluarga PMI di Indonesia dapat menerima dan mengelola kiriman dana dengan mudah. Kombinasi layanan BRImo, BritAma, dan jaringan agen ini diharapkan mempercepat dampak ekonomi remitansi bagi rumah tangga penerima di berbagai daerah.