MALUKU UTARA — Transformasi yang diusung BTN mulai menunjukkan hasil nyata di tengah tekanan industri perbankan nasional. Selain laba yang tumbuh signifikan, kualitas aset perseroan juga membaik—rasio kredit macet (NPL) turun dari 3,3% menjadi 2,99%, dan biaya pencadangan (cost of credit) menciut drastis dari 2,0% menjadi 0,7%.
Chairman Infobank Institute, Eko B. Supriyanto, menilai arah perubahan BTN sudah tepat. Menurutnya, transformasi ini tidak hanya terlihat dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari perbaikan kualitas kredit dan penguatan fundamental perseroan.
Langkah paling mencolok dari transformasi BTN adalah keberaniannya keluar dari zona nyaman pembiayaan rumah. Perseroan kini membangun ekosistem yang mengikuti perjalanan finansial nasabah, tidak berhenti di KPR tetapi merambah kebutuhan keuangan lain setelah rumah terbeli.
"BTN tidak meninggalkan bisnis perumahan. Justru bisnis perumahan diperluas menjadi ekosistem. Bank tidak lagi hanya melihat nasabah sebagai debitur, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidup," ujar Eko dalam keterangan tertulis, Jumat (28/8).
Ekspansi ini diperkuat dengan akuisisi portofolio kredit pensiun SMBC Indonesia senilai hampir Rp20 triliun. Langkah ini memungkinkan BTN melayani kebutuhan finansial nasabah hingga masa pensiun, melengkapi layanan KPR yang selama ini menjadi tulang punggung bisnis.
Digitalisasi menjadi tulang punggung ekosistem anyar ini. Superapps Bale by BTN kini mengantongi sekitar 4,5 juta pengguna, didukung 358 ribu merchant dan 14 ribu developer. Aplikasi tersebut juga terintegrasi dengan 59 pemerintah daerah.
Volume transaksi di platform ini mencapai 2,63 miliar transaksi dengan nilai Rp134 triliun. Angka ini menunjukkan adopsi layanan digital BTN sudah meluas, bukan sekadar gimmick korporasi.
Meski melebarkan sayap, BTN tak melupakan mandat utamanya membiayai perumahan nasional. Pada semester I-2026, kredit perumahan subsidi tumbuh 8,1% menjadi Rp196,96 triliun. Kredit Program Perumahan juga tercatat Rp4,1 triliun.
Total aset perseroan kini mencapai Rp545 triliun, dengan kredit dan pembiayaan Rp418 triliun serta dana pihak ketiga (DPK) Rp433 triliun.
Eko mengingatkan tantangan terbesar BTN ke depan bukan lagi membuktikan transformasi, melainkan menjaga momentum. "Arahnya sudah benar dan hasilnya mulai terlihat. Tantangannya sekarang adalah menjaga momentum transformasi, meningkatkan kualitas layanan, dan memastikan ekosistem yang dibangun BTN terus memberikan nilai bagi masyarakat," tukasnya.
Dengan kombinasi pertumbuhan laba dua digit, perbaikan kualitas aset, dan ekosistem digital yang mulai matang, BTN tampaknya berhasil membuktikan bahwa bank spesialis perumahan pun bisa bertransformasi tanpa kehilangan jati diri.