TERNATE — Kapolda Maluku Utara Irjen Pol. Arif Budiman bersama Kapolres Ternate AKBP Anita Ratna Yulianto mendatangi rumah Esau Sidemo di Kelurahan Tubo, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Minggu (23/8/2026). Kedatangan orang nomor satu di Polda Maluku Utara itu untuk mendengar langsung kisah penyintas yang terombang-ambing di lautan lepas selama lebih dari tiga pekan.
Dalam pertemuan tersebut, Kapolda didampingi Kabid Humas Polda Maluku Utara dan Dirintelkam Polda Maluku Utara. Esau yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu tampak didampingi anggota DPRD Kota Ternate Tasman Balak serta sejumlah keluarga intinya.
Perjalanan 26 Hari di Samudra Pasifik
Esau Sidemo, pria kelahiran 10 Oktober 1969, dilaporkan hilang setelah melaut dari wilayah Pulau Batang Dua pada 7 Juli 2026. Ia baru ditemukan oleh awak kapal kargo LNG Endeavour berbendera Prancis pada 1 Agustus 2026 di perairan Samudra Pasifik.
Saat ditemukan, kondisi Esau dalam keadaan lemah. Awak kapal kargo tersebut memberikan pertolongan pertama dan perawatan medis sebelum akhirnya ia bisa kembali ke keluarga di Kota Ternate.
Bentuk Apresiasi dan Dukungan dari Polda Maluku Utara
Kapolda Maluku Utara bersama Kapolres Ternate menyerahkan bantuan berupa sembako serta penghargaan kepada Esau Sidemo. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk perhatian dan dukungan atas perjuangan serta pengalaman berat yang telah dilaluinya.
"Kapolda Maluku Utara juga memberikan perhatian dan motivasi kepada Esau agar tetap menjaga kesehatan serta dapat kembali berkumpul bersama keluarga dalam keadaan sehat dan selamat," ujar Kabid Humas Polda Maluku Utara kepada awak media.
Esau: Terima Kasih atas Kepedulian Jajaran Polisi
Esau Sidemo yang merupakan warga Kelurahan Bido, Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate, tak kuasa menahan haru saat menerima kunjungan tersebut. Dengan linangan air mata, ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Kapolda Maluku Utara dan Kapolres Ternate.
"Esau sangat berterima kasih kepada Kapolda Malut dan Kapolres Ternate yang begitu prihatin terhadap warganya," kata Esau.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko yang dihadapi nelayan tradisional di wilayah kepulauan seperti Maluku Utara. Arus laut yang kuat kerap membawa perahu nelayan jauh dari jalur pelayaran normal, seperti yang dialami Esau Sidemo hingga akhirnya mencapai Samudra Pasifik.