TERNATE — Halaman Kantor Walikota Ternate di Jalan Pahlawan Revolusi mendadak dipenuhi tumpukan sayur, jagung, hingga pepaya busuk pada Senin sore (4/5/2026). Aksi ini dilakukan oleh sejumlah ibu-ibu pedagang yang kecewa terhadap kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate terkait pemindahan lokasi berjualan.
Aksi membuang dagangan rusak tersebut merupakan bagian dari demonstrasi besar yang digelar Aliansi OKP dan Mahasiswa Kota Ternate dalam peringatan May Day. Para pedagang sengaja membawa barang dagangan yang tidak laku terjual sebagai bukti nyata kerugian ekonomi yang mereka alami sejak direlokasi ke tempat baru.
Kondisi ekonomi yang kian sulit menjadi pemicu utama kemarahan warga. Lokasi relokasi baru yang disediakan pemerintah kota dianggap tidak representatif dan sepi dari jangkauan pembeli. Akibatnya, stok sayuran dan buah-buahan milik pedagang menumpuk hingga membusuk karena tidak laku terjual selama berhari-hari.
Situasi di lapangan sempat memanas ketika massa terlibat adu mulut dengan aparat Satpol PP dan kepolisian yang berjaga. Para pedagang mendesak Pemkot Ternate segera mengembalikan mereka ke lapak asal di Pasar Higienis guna memulihkan pendapatan harian.
“Pedagang dipindahkan ke tempat yang tidak layak dengan dalih penertiban lalu lintas berdasarkan Perda Nomor 12 Tahun 2023. Padahal, kemacetan bukan sepenuhnya salah pedagang, melainkan bukti lemahnya tata kelola pasar oleh pemerintah kota,” tegas Koordinator aksi, Muis Ade.
Massa menilai implementasi Perda Nomor 12 Tahun 2023 tentang ketertiban umum dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek keberlanjutan hidup pedagang kecil. Muis menekankan bahwa para pedagang di kawasan Gamalama sangat bergantung pada hasil jualan harian untuk bertahan hidup serta membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Selain persoalan pasar, aliansi massa juga membawa sejumlah tuntutan krusial bagi pelayanan publik di Ternate, antara lain:
Hingga berita ini diturunkan, tumpukan sayur busuk masih terlihat di area kantor walikota sebagai pengingat keras bagi pemangku kebijakan. Massa mengancam akan terus mengawal tuntutan ini sampai Pemkot Ternate memberikan solusi konkret terkait pemusatan lokasi berjualan yang representatif bagi rakyat kecil.