MOROTAI — Langkah ini menjadi titik awal penguatan Morotai sebagai sentra tuna Indonesia Timur. Direktur PT BFT, Hendra, menyebut seluruh kiriman merupakan hasil tangkapan yang dikumpulkan dari pengepul dan nelayan di berbagai desa.
Perusahaan menargetkan kapasitas pengumpulan mencapai 10 ton per hari dari sejumlah titik di Pulau Morotai. Hendra mengatakan sistem rantai pasok terintegrasi tengah dibangun, mulai dari nelayan hingga distribusi akhir.
“Kunci utamanya adalah menjaga kualitas ikan melalui sistem cold chain dan stabilitas es sejak dari lokasi penangkapan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis.
Meski potensi tuna Morotai besar, Hendra mengakui masih ada kendala distribusi. Wilayah pengepul di desa terpencil seperti Bere-Bere dan sekitarnya memiliki akses yang beragam.
“Dengan wilayah yang cukup luas dan akses yang beragam, kami terus berupaya memastikan kesiapan transportasi, ketersediaan es, serta mobilisasi yang efektif,” tambahnya.
Perusahaan mengandalkan tiga unit kontainer untuk pengiriman perdana ini. Fasilitas Cold Storage Daeo menjadi pusat penyimpanan sebelum tuna dikirim ke Jakarta.
Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai melalui Dinas Kelautan dan Perikanan mengapresiasi langkah PT BFT. Menurut pemda, ekspor ini mendorong pertumbuhan ekonomi daerah pada sektor kelautan yang menjadi unggulan Morotai.
Keterlibatan nelayan lokal dalam rantai distribusi tuna dinilai sebagai bagian penting menciptakan industri perikanan berkelanjutan. Dampaknya diharapkan langsung dirasakan masyarakat pesisir.
Dengan ekspor perdana ini, PT BFT diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi baru di Kabupaten Pulau Morotai. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai salah satu sentra tuna potensial di kawasan Indonesia Timur.
Hendra menambahkan, Morotai memiliki sumber daya tuna yang besar dan berkualitas. Dukungan sistem distribusi dan penyimpanan yang memadai menjadi syarat agar mampu bersaing di pasar nasional maupun ekspor.