HALMAHERA TENGAH — Vauf, alat pancing tradisional dari batang bambu atau pelepah sagu yang biasa digunakan perempuan pesisir di Patani Utara, kembali dihidupkan lewat sebuah lomba. Kegiatan yang digagas Yayasan Studi Etnologi Masyarakat Nelayan Kecil (SEMANK) Maluku Utara ini diikuti peserta dari empat desa: Bilifitu, Woyobibil, Gemia, dan Santosa.
Kepala Desa Gemia, Alfian Faruk, yang membuka acara tersebut mengatakan Vauf sudah menjadi bagian dari keseharian mama-maka di kampung sejak lama. "Semua tempat di pesisir desa, yang ada ikan dan tidak ada ikan sudah diketahui," ujarnya. Tradisi ini biasanya dilakukan dua hingga tiga orang dalam durasi dua sampai tiga jam saat waktu senggang.
Lebih dari Sekadar Mencari Ikan, Ada Fungsi Sosial
Mama Alwiyah, salah satu peserta, mengungkapkan kegiatan ini bukan hanya soal menangkap ikan. "Bukan hanya cari ikan tapi juga tempat bacarita apa saja yang kitorang hadapi baik dalam rumah tangga maupun masalah pekerjaan di tengah masyarakat," katanya. Lewat momen ini, para perempuan saling bertukar pikiran dan melepas penat dari persoalan sehari-hari.
Konstruksi Vauf sederhana. Batang bambu atau pelepah sagu berfungsi sebagai jorang, dilengkapi nilon dan mata kail. Ukuran nilon disesuaikan dengan panjang jorang. Alat ini dinilai ramah lingkungan karena tidak merusak habitat perairan.
Mengapa Lomba Ini Penting bagi Generasi Muda dan Wisata Bahari
Lomba Vauf tidak hanya melibatkan ibu-ibu. Pemuda-pemudi setempat ikut menjadi panitia. Ini bagian dari strategi agar generasi muda tidak putus hubungan dengan tradisi pesisir. Sri Endah Widiyanti dari Yayasan SEMANK menegaskan, tingginya antusiasme warga membuktikan budaya pesisir masih punya tempat di hati masyarakat.
"Kegiatan ini dilaksanakan untuk merawat tradisi, menguatkan peran perempuan pesisir dan mendorong wisata bahari berbasis kearifan lokal," ujar Sri Endah. Ia berharap lomba serupa bisa terus digelar sebagai bagian dari pelestarian budaya bahari dan pengembangan wisata di Halmahera Tengah.
Lomba ini juga menjadi ajang edukasi tentang penggunaan alat tangkap yang tidak destruktif. Peserta diajak memahami pentingnya menjaga laut dan memperhatikan ukuran ikan yang layak tangkap. "Ini langkah mengedukasi masyarakat mengenai penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, menjaga habitat perairan, serta memperhatikan ukuran ikan layak tangkap," kata Sri Endah.
Ke depan, kegiatan seperti ini diharapkan bisa menjadi agenda rutin yang memperkuat identitas masyarakat pesisir Patani Utara sekaligus mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan untuk generasi mendatang.