Pencarian

Bank DBS Singapura Buka Akses Emas Fisik ke Nasabah Ritel Lewat Tokenisasi Blockchain pada 2026

Kamis, 11 Juni 2026 • 16:27:01 WIB
Bank DBS Singapura Buka Akses Emas Fisik ke Nasabah Ritel Lewat Tokenisasi Blockchain pada 2026
Bank DBS Singapura akan membuka akses investasi emas fisik untuk nasabah ritel melalui tokenisasi blockchain pada 2026.

Langkah ini bukan sekadar menambah pilihan investasi. DBS, bank yang dikenal ramah terhadap aset kripto, memanfaatkan teknologi blockchain untuk memecah kepemilikan emas batangan menjadi unit-unit kecil yang bisa diperdagangkan secara digital. Seluruh proses tokenisasi, penerbitan, distribusi, hingga pengelolaan dilakukan sendiri oleh bank tanpa melibatkan pihak ketiga.

Emas Digital yang Didukung Fisik Penuh

Setiap token DBS Physical Gold Token di-backing oleh satu gram emas fisik yang disimpan di vault khusus DBS di Singapura. Bank menjamin infrastruktur yang digunakan setara dengan standar perbankan kelas atas — bukan sekadar janji di atas kertas.

Produk ini akan terdaftar di platform digibank milik DBS. Bank juga sedang menjajaki kemungkinan mencatatkan token tersebut di DBS Digital Exchange (DDEx), sebuah bursa yang selama ini dikhususkan untuk investor terakreditasi dan institusi.

Mengapa Bank Besar Melirik Tokenisasi Emas Sekarang?

Keputusan DBS mengikuti tren global yang semakin deras menuju representasi aset dunia nyata (real world assets/RWAs) berbasis blockchain. Dalam tiga tahun terakhir, nilai kepemilikan emas fisik di portofolio nasabah kaya DBS meningkat lebih dari dua kali lipat. Permintaan yang membengkak inilah yang mendorong bank untuk membuka keran investasi emas ke segmen yang lebih luas.

"Selama ini investor ritel kami bisa membeli reksa dana emas, tapi akses ke emas fisik sebagian besar hanya tersedia untuk investor institusi dan terakreditasi," ujar James Tan, kepala unit produk investasi dan advisori DBS.

Bukan Eksperimen Pertama DBS di Blockchain

Bank ini sudah memiliki jejak panjang di ranah tokenisasi. Pada 2025, DBS menokenisasi structured notes di jaringan Ethereum dan mendaftarkan sgBENJI, token dari dana pasar uang token milik Franklin Templeton. Mereka juga sudah listing RLUSD, stablecoin yang dipatok ke dolar AS dan didukung oleh Ripple.

Dengan kata lain, peluncuran token emas ritel ini adalah kelanjutan logis dari strategi DBS yang secara perlahan mengintegrasikan aset digital ke dalam layanan perbankan tradisional — tanpa meninggalkan regulasi dan infrastruktur perbankan konvensional.

Apa Artinya Bagi Pasar Indonesia?

Meski produk ini baru tersedia untuk nasabah DBS Singapura, langkah bank sebesar DBS bisa menjadi sinyal bagi pelaku industri keuangan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Bank-bank besar di tanah air selama ini masih sangat hati-hati terhadap aset kripto dan tokenisasi, terutama karena sikap regulator yang ketat. Tapi ketika institusi sekelas DBS — yang tunduk pada pengawasan otoritas moneter Singapura (MAS) — bergerak, tekanan untuk mengadopsi teknologi serupa di pasar lain akan semakin besar.

Yang menarik, DBS memilih emas sebagai aset pertama yang ditokenisasi untuk ritel. Emas adalah instrumen investasi yang sudah dipahami masyarakat Indonesia sejak lama. Jika model ini berhasil, bukan tidak mungkin bank-bank di kawasan akan mengikuti jejak serupa — dengan atau tanpa blockchain di permukaan.

Bagikan
Sumber: coindesk.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks