MALUKU UTARA — Polestar 4 hadir di Amerika Serikat sebagai crossover listrik yang paling kontroversial secara desain. Bukan karena bentuknya yang aneh, justru sebaliknya: proporsi coupé-nya disebut lebih elegan dari Tesla Model Y. Kontroversi terletak pada keputusan berani menghilangkan kaca belakang sama sekali, digantikan kamera atap yang memproyeksikan gambar ke spion digital di dalam kabin.
Kamera Pengganti Kaca: Solusi atau Gimmick?
Polestar mengklaim sistem kamera ini memberikan sudut pandang lebih luas di antara pilar-C yang tebal. Saat menyalakan lampu sein, gambar bahkan bergeser ke kiri atau kanan secara otomatis. Namun, sistem ini punya kelemahan klasik: kamera tidak bisa membersihkan diri dari salju atau lumpur jalanan. Berbeda dengan hatchback biasa yang cukup mengaktifkan wiper kaca belakang.
Untungnya, konsep tanpa jendela ini punya satu keuntungan nyata: ruang kepala baris kedua sangat lega. Polestar 4 tidak mengorbankan kenyamanan penumpang belakang seperti kebanyakan SUV fastback lainnya.
Interior Minimalis dengan Satu Keanehan Fungsional
Kabin mengusung gaya Skandinavia yang bersih dan lapang. Namun, ada satu fitur yang terasa janggal di mobil sekelas ini: untuk menyalakan lampu utama secara manual, pengemudi harus menyentuh layar sentral 15,4 inci, masuk ke submenu, lalu mengonfirmasi dengan tombol di setir. Sebuah langkah yang terasa tidak intuitif di tengah desain yang sangat matang.
Performa Listrik: Setara Porsche, Tapi Lebih Berat
Kami menguji dua varian dual-motor yang sama-sama menghasilkan 536 hp. Hasil akselerasi nyaris identik. Varian Long Range dan Performance sama-sama mencapai 60 mph (96 km/jam) dalam 3,2 detik. Satu-satunya selisih terlihat di quarter-mile: varian Performance mencatat 11,5 detik, unggul sepersepuluh detik dari versi Long Range.
Perbedaan signifikan baru terasa saat pengereman. Varian Performance dilengkapi kaliper Brembo 4-piston dengan rotor 15,4 inci di depan. Hasilnya, jarak pengereman dari 70 mph (112 km/jam) lebih pendek 7 kaki (2,1 meter) dan dari 100 mph (160 km/jam) lebih pendek 22 kaki (6,7 meter) dibanding varian Long Range yang memakai rotor 14,3 inci dan ban Michelin Primacy All Season.
Kenyamanan Berkendara vs Daya Jangkau & Pengisian Daya
Kedua varian tercatat menghasilkan kebisingan 21 sones pada kecepatan 70 mph—sama senyapnya. Ini mengejutkan karena varian Performance menggunakan velg 22 inci dengan profil ban lebih tipis. Polestar 4 terbukti lebih cepat dan hampir senyap Porsche Macan 4 EV, namun jarak tempuh EPA 280 mil (450 km) dan kecepatan pengisian DC 200 kW kalah impresif.
Saat uji pengisian 10-90 persen, puncak daya yang tercatat hanya 168 kW, jauh dari klaim 200 kW. Dibutuhkan 41 menit untuk mencapai 90 persen. Untuk pengisian 10-80 persen, waktu tempuhnya sekitar 30 menit—tergolong lambat untuk baterai 94 kWh.
Kesimpulan: Lebih Rasional dari Penampilannya
Polestar 4 memang memaksa pengemudi melihat dunia dengan cara berbeda—setidaknya dunia di belakangnya. Namun, begitu Anda terbiasa dengan kamera spionnya, SUV ini mengungkapkan dirinya sebagai kendaraan listrik yang nyaman, cepat, dan jauh lebih rasional dari yang disarankan oleh penampilannya yang radikal. Sayangnya, harga yang lebih mahal dari rival sekelasnya tidak dibarengi dengan jarak tempuh atau kecepatan pengisian yang superior.