TERNATE — Dominasi musim kemarau yang melanda 92,93 persen wilayah Indonesia, termasuk Maluku Utara, diperparah oleh indeks El Nino yang mencapai +2,26 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -28,2. Angka-angka ini mengindikasikan El Nino berkekuatan kuat dan berpotensi terus menguat sepanjang tahun ini.
Apa Dampak Siklon Tropis Noul bagi Maluku Utara?
BMKG mencatat Siklon Tropis Noul yang bergerak di Laut Filipina memberikan dampak tidak langsung berupa peningkatan suplai uap air. Meskipun demikian, dampak paling nyata bagi Maluku Utara adalah peningkatan kecepatan angin permukaan yang memicu potensi angin kencang, pohon tumbang, dan kerusakan bangunan ringan.
“Kondisi ini juga memicu peningkatan kecepatan angin permukaan hingga lebih dari 20 knot di sejumlah wilayah, sehingga potensi angin kencang, pohon tumbang, kerusakan bangunan ringan, dan gangguan aktivitas masyarakat juga perlu diwaspadai,” kata Dr. Andri Ramdhani, M.Si dari Direktorat Meteorologi Publik BMKG dalam rilis resminya, Senin (27/7/2026).
Mengapa Warga Dilarang Membakar Lahan?
Dengan curah hujan kategori rendah yang mendominasi hampir seluruh wilayah, kondisi lahan menjadi sangat kering dan mudah terbakar. BMKG secara tegas mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah secara sembarangan.
“Segera laporkan indikasi titik api, khususnya bagi wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan,” imbau BMKG dalam keterangan resminya.
Perairan Maluku Utara Juga Berbahaya
Peningkatan kecepatan angin tidak hanya berdampak di darat. BMKG memprediksi kondisi serupa akan berlangsung di Laut Maluku, Laut Seram, dan Laut Halmahera. Hal ini berpotensi memicu kenaikan tinggi gelombang laut yang membahayakan aktivitas pelayaran dan nelayan.
Masyarakat yang tinggal di pesisir atau bergantung pada transportasi laut diminta untuk terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi dari BMKG.
Langkah Mitigasi yang Per Dilakukan
BMKG memberikan sejumlah panduan bagi masyarakat. Pertama, hemat penggunaan air bersih untuk mengantisipasi kekeringan panjang. Kedua, hindari berteduh di bawah pohon besar, baliho, atau bangunan rapuh saat angin kencang melanda. Ketiga, jangan panik dan selalu perbarui informasi dari kanal resmi BMKG.
Meskipun kondisi kering mendominasi, BMKG mengingatkan bahwa hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih mungkin terjadi secara lokal di beberapa titik akibat pengaruh gelombang atmosfer dan sirkulasi siklonik.