TERNATE — Perjuangan Esau Sidemo melawan kerasnya alam akhirnya berujung pada kebahagiaan. Nelayan yang sempat dikhawatirkan meninggal dunia itu kini telah kembali ke pangkuan keluarga setelah kapal kargo LNG Endeavour berbendera Prancis mengevakuasinya di tengah Samudra Pasifik.
Takdir Esau berubah drastis sejak ia melaut pada 7 Juli 2026. Kondisi cuaca buruk dan gelombang tinggi membuat perahunya tersapu arus, membawanya terombang-ambing tanpa arah hingga jauh dari jalur pelayaran normal.
Evakuasi di Tengah Laut oleh Kapal Kargo Asing
Setelah 26 hari menghadapi kerasnya lautan lepas, harapan muncul pada Minggu, 2 Agustus 2026. Kapal kargo LNG Endeavour yang sedang melintas di Samudra Pasifik mendeteksi keberadaan Esau dan langsung melakukan penyelamatan.
Di atas kapal tersebut, Esau menerima perawatan medis darurat dan pemenuhan nutrisi yang sangat dibutuhkan tubuhnya. Kapten dan seluruh kru kapal memberikan pelayanan hangat selama pelayaran menuju Shanghai, Tiongkok.
Setibanya di kota pelabuhan tersebut, pihak kapal langsung menyerahkan Esau kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk memproses dokumen kepulangannya ke tanah air.
Keluarga di Ternate Tak Kuasa Menahan Haru
Suasana haru menyelimuti proses penjemputan di Bandara Soekarno-Hatta. Keluarga yang telah lama menanti kabar baik itu tak mampu menyembunyikan rasa syukur mereka.
"Memang benar bapak Esau Sidemo sudah tiba di tanah air dan kami sedang jemput beliau di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang, Banten," tutur Yokpedi Lette, salah satu anggota keluarga dekat Esau Sidemo.
Rasa terima kasih yang mendalam disampaikan keluarga kepada semua pihak yang telah mendukung, merawat, dan mengawal proses pemulangan Esau sejak dievakuasi di lautan hingga tiba di Jakarta.
Jadwal Kepulangan ke Ternate Segera Disiapkan
Setelah menjalani proses penjemputan dan pemulihan singkat di ibu kota, Esau dijadwalkan segera diterbangkan kembali ke kampung halamannya di Ternate untuk berkumpul bersama keluarga besar.
"Selaku keluarga kami senang karena beliau sudah tiba di tanah air dengan selamat. Dan rencana akan kita jadwalkan tiba di Ternate setelah kita jemput di Jakarta," pungkas Yokpedi.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan besarnya risiko yang dihadapi nelayan tradisional saat melaut, terutama di kawasan perairan timur Indonesia yang dikenal memiliki ombak dan arus kuat.