MALUKU UTARA — Layanan kereta bandara yang dioperasikan oleh KAI Group kini menjadi tulang punggung mobilitas penumpang pesawat. Data terbaru menunjukkan, dalam empat bulan pertama tahun ini, rata-rata lebih dari 27.000 orang setiap harinya memilih moda transportasi ini untuk menuju atau meninggalkan bandara. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meskipun KAI belum merinci persentase kenaikannya.
KAI Group mengelola beberapa rute kereta bandara di sejumlah kota besar. Layanan ini mencakup koneksi dari pusat kota ke bandara utama, seperti yang tersedia di Jakarta, Yogyakarta, dan Medan. Peningkatan jumlah penumpang ini tak lepas dari frekuensi perjalanan yang ditambah dan jam operasional yang diperpanjang.
“Kami terus berupaya meningkatkan pelayanan agar masyarakat semakin nyaman menggunakan kereta bandara. Ini sejalan dengan komitmen kami untuk mendukung konektivitas nasional,” ujar juru bicara KAI dalam pernyataan resminya. Pihaknya juga mencatat, tingkat ketepatan waktu keberangkatan kereta bandara mencapai lebih dari 95 persen selama periode tersebut.
Bagi pengguna jasa, kereta bandara menawarkan solusi kemacetan yang kerap menghantui perjalanan darat menuju bandara. Seorang penumpang asal Jakarta, misalnya, mengaku lebih memilih kereta bandara karena waktu tempuh yang lebih pasti. “Dulu saya sering terjebak macet, sekarang lebih tenang karena jadwalnya jelas,” katanya.
Dari sisi industri, meningkatnya jumlah pengguna kereta bandara turut mendorong okupansi penerbangan. Bandara-bandara yang terintegrasi dengan stasiun kereta mencatat peningkatan jumlah penumpang pesawat. Hal ini menjadi sinyal positif bagi pemulihan sektor aviasi pasca-pandemi.
KAI menargetkan jumlah penumpang kereta bandara bisa tembus 10 juta orang hingga akhir tahun 2026. Untuk mencapai target tersebut, perseroan berencana menambah rangkaian kereta dan membuka rute baru di beberapa kota. Saat ini, KAI juga tengah mengkaji kerja sama dengan operator bandara untuk memperluas integrasi layanan.
Dengan tren yang terus meningkat, kereta bandara diproyeksikan menjadi moda utama bagi para pelancong di Indonesia. Data hingga April 2026 ini menjadi bukti bahwa peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi massal mulai terwujud.