MALUKU UTARA — Lisuan Tech, perusahaan semikonduktor asal China, baru saja merilis LX 7G100 sebagai GPU gaming "buatan dalam negeri" pertama yang serius. Namun, hasil pengujian dari kanal teknologi China ??? menunjukkan produk ini gagal memenuhi ekspektasi. Dalam video yang diunggah ke Bilibili, LX 7G100 tidak mampu menandingi GeForce RTX 4060, kartu grafis Nvidia yang sudah dirilis lebih dari setahun lalu.
Lisuan membanderol LX 7G100 seharga 485 dolar AS, atau sekitar Rp 8 juta. Angka ini hampir sama dengan harga termurah GeForce RTX 5060 Ti 16GB di pasaran saat ini. Dengan banderol tersebut, konsumen China dihadapkan pada pilihan sulit: membeli GPU lokal dengan performa terbatas atau GPU impor yang lebih mumpuni.
??? menguji LX 7G100 di sembilan game modern dengan resolusi 1080p. Pengaturan grafis bervariasi dari rendah hingga sedang, dan sesekali tinggi untuk melihat batas maksimal GPU. Fitur FSR 3 dan frame generation juga diaktifkan jika game mendukung. Sayangnya, hasilnya mengecewakan.
Di Shadow of the Tomb Raider, LX 7G100 hanya mampu menghasilkan 48 FPS rata-rata dengan 1% Low di 35 FPS. Angka ini masih di bawah standar 60 FPS yang dianggap mulus untuk gaming. Sementara di Forza Horizon 5, performanya sangat rendah — kemungkinan besar karena optimasi driver yang buruk.
Untuk memastikan GPU menjadi satu-satunya faktor pembatas, ??? merakit PC high-end. Spesifikasinya meliputi prosesor AMD Ryzen 7 9800X3D, motherboard MSI MPG X870E Edge Ti WiFi, RAM 32 GB (2x16 GB) Biwin Black Opal DW100 DDR5-6000 C28, dan SSD Biwin Black Opal X570 2TB PCIe 5.0. Dengan sistem ini, bottleneck dari komponen lain bisa diminimalkan.
Sebagai perbandingan, GeForce RTX 4060 yang sudah berusia lebih dari setahun mampu memberikan performa gaming yang lebih stabil di resolusi 1080p. Bahkan, LX 7G100 kalah telak dari GPU entry-level Nvidia tersebut. Dengan harga yang sama, konsumen bisa mendapatkan RTX 5060 Ti 16GB yang menawarkan performa jauh lebih tinggi dan fitur ray tracing yang lebih matang.
Lisuan LX 7G100 mungkin menjadi langkah awal yang berani bagi industri semikonduktor China. Namun, sebagai produk konsumen, GPU ini masih jauh dari kata layak beli. Performa gaming-nya yang rendah, harga yang tidak kompetitif, serta dukungan driver yang terbatas membuatnya sulit bersaing. Bagi pengguna yang menginginkan kartu grafis untuk gaming modern, pilihan dari Nvidia atau AMD masih jauh lebih rasional.