Pencarian

Tenun Tidore Tembus Kampus Bergengsi di Berlin, Jadi Alat Diplomasi Budaya dari Maluku Utara

Selasa, 12 Mei 2026 • 15:10:57 WIB
Tenun Tidore Tembus Kampus Bergengsi di Berlin, Jadi Alat Diplomasi Budaya dari Maluku Utara
Kain tenun Puta Dino Kayangan dari Tidore dipamerkan di Universitas Humboldt Berlin sebagai simbol diplomasi budaya.

SOFIFI — Suara benang ditenun dan sejarah yang nyaris padam kembali bergema di ruang kuliah Institut Studi Asia dan Afrika (IAAW), Universitas Humboldt Berlin, Jerman, pada 6 Mei 2026 lalu. Bukan sekadar pameran, kehadiran kain tenun Puta Dino Kayangan dari Tidore menjadi pernyataan bahwa budaya Maluku Utara masih hidup dan diakui dunia.

Dari Arsip Kusam ke Panggung Berlin

Kisah kebangkitan ini bermula pada 2017. Anita Gathmir menemukan dokumen dan foto lama yang menunjukkan tradisi menenun di Tidore nyaris punah. Berbekal temuan itu, ia mendirikan “Puta Dino Kayangan” — nama filosofis yang berarti “kain yang disusun dengan nilai mulia.”

“Kegiatan ini bukan sekadar pameran, tapi pernyataan bahwa Tidore masih ada dan budayanya tetap hidup,” demikian narasi semangat yang dibawa rombongan ke Berlin.

Dua Penenun Peragakan Langsung di Depan Akademisi

Acara bertajuk “Die Weberinnen von Tidore” (Para Penenun dari Tidore) digagas oleh Esie Hanstein, Lektor Bahasa Indonesia di IAAW. Dua orang penenun binaan Anita memperagakan kemahiran mereka menggunakan alat tenun portabel secara langsung. Jemari mereka menyusun benang menjadi motif bersejarah, seperti “Motif Tuan Guru”, di hadapan para akademisi dan mahasiswa.

Ronius Marjunus, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Berlin, turut hadir mewakili Kedutaan Besar Republik Indonesia. Dukungan juga mengalir dari KJRI Hamburg dan KBRI Berlin, menandakan pentingnya diplomasi budaya melalui wastra nusantara.

Bukan Catwalk Biasa: Strategi Edukasi ke Kampus

Sebelumnya, tenun Puta Dino sudah melantai di catwalk New York hingga Cape Town. Namun, pameran di Universitas Humboldt Berlin menjadi tonggak baru: “Goes to Campus”. Ini adalah upaya edukatif untuk memperjelas kembali posisi Tidore di peta dunia.

Jika dulu Tidore dikenal sebagai pulau rempah yang memicu penjelajahan dunia, kini Tidore dikenal melalui kelembutan dan kekuatan filosofis kain tenunnya. Anita Gathmir, yang juga meraih penghargaan “Puspa Pesona”, menjadi motor penggerak ekonomi bagi perempuan di Maluku Utara melalui UMKM-nya.

Di bawah langit Berlin, kain-kain dari Tidore itu bercerita — bahwa tradisi yang sempat terlupakan 100 tahun silam, kini telah bangun dan siap menaklukkan dunia sekali lagi.

Bagikan
Sumber: tandaseru.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks