TERNATE — Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengungkapkan penyebab pertumbuhan ekonomi daerah yang tinggi tidak dirasakan langsung oleh masyarakat. Menurutnya, masalah utama bukan pada hasil bumi atau laut yang melimpah, melainkan akses jalan dan konektivitas yang buruk sehingga distribusi hasil panen dan tangkapan ikan terhambat.
Pernyataan itu disampaikan Sherly melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @s_tjo. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Maluku Utara berada di angka sekitar 20 persen, namun warga masih mempertanyakan di mana letak hasil pertumbuhan tersebut.
“Pertumbuhan ekonomi kita di angka sekitar 20%, tetapi selalu yang menjadi pertanyaan dan kebiasaan masyarakat adalah pertumbuhan ekonomi itu ada di mana, mereka tidak terlalu merasakan itu,” ujar Sherly.
Hasil Panen dan Ikan Melimpah, Tapi Harga Jatuh di Petani
Sherly menegaskan bahwa petani dan nelayan di Maluku Utara sebenarnya memiliki produksi yang cukup. Namun, tanpa jalan yang layak, hasil panen dan tangkapan ikan sulit didistribusikan ke pasar.
“Hasil panen ada. Ikan ada. Tapi tanpa jalan yang layak, tanpa konektivitas yang kuat, hasil itu tertahan di desa, harga jatuh di petani - Nelayan, mahal di pasar,” tulis Sherly.
Kondisi itu membuat harga hasil bumi justru jatuh di tingkat petani dan nelayan, sementara harga barang di pasar menjadi mahal. Situasi ini dinilai secara tidak langsung ikut memicu tingginya angka kemiskinan di Maluku Utara.
Hampir 30 Persen Jalan Provinsi Rusak Berat
Sherly memaparkan kondisi infrastruktur jalan di Maluku Utara masih memprihatinkan. Berdasarkan data yang dimilikinya, total panjang jalan provinsi di 10 kabupaten dan kota mencapai sekitar 6.300 kilometer.
Dari total tersebut, sekitar 1.900 kilometer atau hampir 30 persen di antaranya mengalami kerusakan berat. Ia menilai pembangunan konektivitas menjadi solusi paling penting untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
Layanan Kesehatan dan Pendidikan di Daerah Terpencil Juga Lemah
Tak hanya soal jalan, Sherly juga menyoroti masih lemahnya layanan kesehatan dan pendidikan di wilayah kepulauan serta daerah terpencil. Ia menekankan bahwa akses terhadap pelayanan dasar menjadi faktor penting yang belum optimal dirasakan warga.
“Mereka tidak kekurangan hasil. Mereka hanya kekurangan akses,” tulis Sherly.