MALUKU UTARA — Pertamina tidak lagi memandang digitalisasi sekadar proyek teknologi. Kini, seluruh inisiatif AI dan data analytics diarahkan untuk memberi dampak langsung ke laporan keuangan. Senior Vice President Pertamina Digital Hub, Ignatius Sigit Pratopo, mengungkapkan bahwa perusahaan telah membentuk fungsi khusus yang melapor langsung ke Direktur Utama untuk mengoordinasikan transformasi ini.
Digital Factory: Dari Identifikasi Masalah hingga Skala Bisnis
Untuk mengejar target US$300 juta, Pertamina mengandalkan program Digital Factory. Pendekatan ini bersifat end-to-end, mulai dari mengidentifikasi titik sakit (pain point) di setiap lini bisnis, mengembangkan produk awal (MVP), hingga memperbesar skala implementasi jika solusi terbukti efektif.
"Setelah konsep disepakati bersama bisnis, tim khusus akan mengembangkan MVP dan menghadirkan solusi digital analytics maupun AI. Ketika terbukti berhasil, kami melakukan scale-up. Pada tahap itulah kami mulai merealisasikan nilai bisnis yang nyata," jelas Sigit dalam acara IPA Convex di ICE BSD, Tangerang, Jumat (22/5/2026).
Realisasi Value Creation Melonjak, KPI Unit Bisnis Mulai Diterapkan
Hasil dari pendekatan ini mulai terlihat. Pada 2024, Pertamina mencatat value creation lebih dari US$35 juta. Angka tersebut melesat pada 2025 dengan realisasi hampir US$80 juta, jauh di atas target awal US$50 juta. Momentum ini membuat Pertamina berani menaikkan target menjadi US$150 juta pada 2026.
Untuk memastikan target tidak sekadar wacana, perusahaan mulai menerapkan Key Performance Indicator (KPI) khusus bagi unit bisnis tahun ini. "Itulah perjalanan yang sedang kami jalani saat ini," ujar Sigit.
AI di Hulu Migas: ChanceX Tingkatkan Keberhasilan Eksplorasi 10%
Transformasi digital tidak hanya menyentuh sektor hilir. Di sisi hulu (upstream), Pertamina telah memanfaatkan machine learning dan AI melalui program seperti ChanceX. Teknologi ini terbukti mampu meningkatkan rasio keberhasilan eksplorasi di salah satu cekungan (basin) hingga 10%.
Implementasi AI juga terus diperluas ke area strategis lain seperti pengeboran (drilling), optimalisasi produksi, dan manajemen reservoir. "Kami terus memperluas implementasi AI di berbagai operasi upstream," tutup Sigit.
Dengan strategi ini, Pertamina berupaya membuktikan bahwa investasi digital bukan sekadar gimik, melainkan pilar utama untuk mendongkrak efisiensi dan profitabilitas di seluruh rantai nilai energi.