Pencarian

Rupiah Tersungkur Mendekati Rp 18.000, BRI Sudah Patok Kurs Jual Rp 17.990

Selasa, 02 Juni 2026 • 14:23:22 WIB
Rupiah Tersungkur Mendekati Rp 18.000, BRI Sudah Patok Kurs Jual Rp 17.990
BRI mematok kurs jual dolar AS tertinggi di Rp 17.990 pada pagi ini.

MALUKU UTARA — Pergerakan rupiah masih jauh dari kata tenang. Pagi ini, kurs jual dolar AS di empat bank besar kompak bertengger di kisaran Rp 17.800 hingga nyaris Rp 18.000. BRI menjadi yang paling tinggi, mematok harga jual dolar di level Rp 17.990 berdasarkan data e-Rate pukul 08.16 WIB.

Kondisi ini membuat masyarakat dan pelaku usaha yang membutuhkan dolar untuk transaksi atau impor harus merogoh kocek lebih dalam. Di sisi lain, bagi mereka yang memiliki tabungan dolar, kurs beli di bank juga ikut terkerek naik.

Perbandingan Kurs di Empat Bank Besar

Berdasarkan pantauan di awal perdagangan, berikut patokan kurs di masing-masing bank:

  • BCA (e-Rate): Beli Rp 17.800, Jual Rp 17.900
  • BNI (Special Rates): Beli Rp 17.795, Jual Rp 17.895
  • BRI (e-Rate): Beli Rp 17.788, Jual Rp 17.990
  • Bank Mandiri (Special Rate): Beli Rp 17.795, Jual Rp 17.835

Selisih kurs jual antar bank cukup mencolok. BRI dan BCA mematok harga lebih tinggi dibanding Mandiri, yang masih di bawah Rp 17.850. Sementara di layanan TT Counter dan Bank Notes, BRI bahkan sudah menembus Rp 18.040 untuk kurs jual.

Menkeu: Ada Harapan di Balik Ketegangan Global

Di tengah tekanan ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melihat secercah harapan. Menurutnya, situasi geopolitik yang mulai membaik bisa menjadi angin segar bagi rupiah.

"Kalau melihat berbagai pemberitaan internasional, ada indikasi bahwa Amerika Serikat, Iran, dan Israel hampir mencapai kesepakatan. Dengan kondisi keamanan dan situasi global yang diperkirakan membaik dalam dua hingga tiga bulan ke depan, pelemahan rupiah juga diperkirakan akan berakhir," ujar Purbaya beberapa waktu lalu.

Pemerintah, kata dia, juga terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas sektor keuangan. Fokusnya adalah memastikan pasar obligasi domestik tetap kondusif, terutama bagi investor asing yang memegang surat utang negara.

"Kami terus berkoordinasi secara intensif dengan bank sentral untuk memastikan kondisi sektor keuangan tetap kuat dan stabil. Salah satu tujuannya adalah agar investor asing yang memiliki obligasi domestik tidak mengalami capital loss yang terlalu dalam akibat gejolak pasar," jelas Purbaya.

Ia optimistis kepercayaan terhadap rupiah akan pulih seiring membaiknya prospek ekonomi global. "Saya percaya pada akhirnya kita dapat mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah sehingga nilai tukar dapat bergerak lebih stabil ke depan," pungkasnya.

Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks