SOFIFI — Keberhasilan hilirisasi di Maluku Utara tak lagi hanya diukur dari angka investasi dan kapasitas produksi. Kini, industri nikel diwajibkan memenuhi standar keberlanjutan yang ketat agar bisa menembus pasar global. Isu ini menjadi topik utama dalam forum yang digelar oleh Kadin Komite Bilateral Inggris dan Irlandia tersebut.
Standar Keberlanjutan Jadi Syarat Tembus Pasar Global
Forum tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, pelaku industri, hingga organisasi internasional. Mereka merumuskan praktik hilirisasi yang bertanggung jawab demi memenuhi kebutuhan mineral kritis dunia dalam mendukung transisi energi.
Rangkaian kegiatan dalam forum ini mencakup kunjungan lapangan ke kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) pada 1-2 Juni 2026. Peserta juga melakukan peninjauan langsung ekosistem industri, diskusi standar lingkungan, serta evaluasi upaya daerah menjadikan Maluku Utara sebagai rujukan global praktik industri berkelanjutan.
Apresiasi Keterbukaan Industri di Maluku Utara
Ovan Tito, Ketua Bidang ESDM Kadin Komite Bilateral Inggris dan Irlandia, memberikan apresiasi atas keterbukaan industri di Maluku Utara. Menurutnya, operasional di kawasan tersebut telah berada pada skala kelas dunia dan terus menunjukkan peningkatan standar keberlanjutan.
Agenda ini bertujuan menyelaraskan perspektif para pemangku kepentingan terhadap operasional industri nikel di Indonesia. Dengan melihat langsung di lapangan, diharapkan ada pemahaman lebih baik mengenai komitmen lingkungan yang dijalankan pelaku industri.
Dampak Ekonomi: Ekspor Melonjak Hingga 34 Miliar Dolar AS
Kebijakan hilirisasi telah membuahkan hasil nyata. Nilai ekspor produk turunan nikel melonjak drastis dari 3,3 miliar dolar AS pada 2018 menjadi 34 miliar dolar AS pada 2024. Lonjakan ini menunjukkan transformasi ekonomi yang signifikan di Maluku Utara.
Saat ini, Maluku Utara menyumbang sekitar 13 hingga 15 persen pasokan nikel global. Posisi ini menempatkan daerah tersebut sebagai salah satu simpul terpenting dalam industri mineral kritis dunia.
Pertumbuhan Ekonomi Hampir 20 Persen
Data menunjukkan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara mencapai hampir 20 persen, menjadikannya salah satu yang tertinggi di Indonesia. Sektor pertambangan dan pengolahan mineral menjadi tulang punggung struktur ekonomi wilayah tersebut.
Sebagian besar ekspor daerah kini didominasi komoditas berbasis besi, baja, nikel, serta bahan kimia anorganik. Hal ini mempertegas bahwa hilirisasi telah menjadi mesin utama penggerak kesejahteraan ekonomi di Maluku Utara.