MALUKU UTARA — Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Situbondo, Ajun Komisaris Polisi Selimat, mengonfirmasi tersangka telah diamankan dan tiba di Mapolres pada Minggu pagi, 7 Juni 2026. "Tersangka pembunuhan sudah kami amankan dan tiba di Polres Situbondo pada Minggu pagi tadi. Pelaku saat ini sedang menjalani pemeriksaan intensif di ruang penyidik pidana umum," kata Selimat di Situbondo, dikutip dari Antara.
Motif Cemburu dan Sakit Hati, Polisi Masih Mendalami
Dari hasil pemeriksaan sementara, ARH mengaku membunuh istrinya karena cemburu dan sakit hati. Korban diketahui bertugas sebagai bidan di RSUD Besuki, Kabupaten Situbondo.
Namun, polisi belum cukup puas dengan pengakuan tersebut. "Meskipun tersangka mengaku melakukan tindak pidana pembunuhan terhadap istrinya sendiri karena cemburu dan sakit hati, kami tetap melakukan pendalaman," ujar Selimat. Penyidik masih menggali kemungkinan motif lain yang melatarbelakangi aksi brutal tersebut.
Batu Jadi Alat Maut, Jasad Dibuang di Drainase Pantura
Di lokasi kejadian, polisi mengamankan barang bukti berupa batu yang digunakan ARH untuk menghabisi nyawa istrinya. Setelah korban tewas, pelaku membuang jasad korban ke drainase di jalur Pantura wilayah barat Situbondo pada Sabtu (6/6).
"Selain mengamankan barang bukti, kami juga telah meminta keterangan saksi-saksi dan menunggu hasil otopsi guna mengetahui pasti penyebab kematian korban," tambah Selimat. Hasil otopsi diharapkan menjadi kunci untuk memperkuat konstruksi perkara dan mengonfirmasi penyebab kematian korban secara forensik.
Kronologi Penyerahan Diri dan Proses Hukum
ARH menyerahkan diri ke Polda Jawa Timur pada Sabtu malam, beberapa jam setelah peristiwa pembunuhan terjadi. Ia kemudian dibawa ke Polres Situbondo untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Tersangka kini ditahan di ruang tahanan Mapolres dan terancam dijerat Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup atau maksimal 15 tahun.
Kasus ini menjadi perhatian publik lantaran pelaku adalah orang terdekat korban. Seorang bidan yang seharusnya menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan justru kehilangan nyawa di tangan suaminya sendiri.