TERNATE — Pelantikan pengurus Dekranasda Kota Ternate berlangsung di Pendopo Benteng Oranje, Selasa (23/6/2026), bertepatan dengan peringatan HUT ke-46 Dekranas. Ketua Dekranasda yang baru, Marliza M. Tauhid, langsung menegaskan bahwa keterbatasan anggaran daerah tidak boleh menjadi hambatan untuk berinovasi.
Tenun ATBM Sempat Vakum 20 Tahun, Kini Dihidupkan Kembali
Marliza mengungkapkan bahwa kerajinan tenun di Ternate memiliki sejarah panjang yang sempat terputus. Tenun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang berjaya pada era 1980-an, misalnya, vakum total sekitar tahun 1999 hingga 2000.
Upaya menghidupkannya kembali baru dimulai pada 2021-2022. Saat itu, pengurus Dekranasda menemui almarhum Prahoro, seorang tokoh kunci yang meski sudah tua dan penglihatannya menurun, tetap membagikan seluruh pengetahuannya untuk kelangsungan tenun ATBM.
"Kami di sini sebatas melanjutkan, mengembangkan, dan melestarikan. Namun hasil inovasi dari para pendahulu itu sungguh luar biasa," ujar Marliza dalam sambutannya.
Mengapa Tenun Harus Masuk Kurikulum?
Rencana memasukkan kriya tenun dan wastra ke dalam kurikulum muatan lokal sudah mulai dimatangkan. Rapat koordinasi telah digelar sebulan lalu dengan melibatkan Bank Indonesia, Dinas Pendidikan Provinsi Maluku Utara, Dinas Pendidikan Kota Ternate, dan Dekranasda.
“Kami sudah sampaikan bahwa Dekranasda Kota Ternate siap mendukung penuh penguatan materi-materi itu untuk dijadikan muatan lokal mulai dari murid SD, SMP, hingga SMA,” kata Marliza.
Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan regenerasi perajin. Tanpa intervensi kurikulum, dikhawatirkan pengetahuan membatik dan menun yang diwariskan secara turun-temurun akan punah dalam satu generasi.
Koloncucu dan Batik Maleyfo: Bukti Tenun Bukan Produk Impor
Marliza juga meluruskan anggapan bahwa tenun tidak memiliki akar sejarah di Ternate. Ia mencontohkan Tenun Koloncucu yang hingga kini masih bertahan dan telah memasuki generasi kelima. Produk-produk lain seperti Mayana Ecoprint dan Batik Maleyfo juga disebut sebagai bukti ketangguhan perajin lokal.
“Di tangan Bapak dan Ibu sekalian, kita bisa merawat sejarah dan kearifan lokal yang ada di Kota Ternate,” katanya, memberikan apresiasi kepada para pengrajin.
Sinergi OPD dan Target 5 Tahun ke Depan
Ketua Harian Dekranasda Kota Ternate yang juga Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ternate, Nursidah DJ Mahmud, menjelaskan bahwa struktur kepengurusan baru sengaja diisi oleh sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD). Hal ini untuk mengoptimalkan pengembangan ekonomi kreatif secara lintas sektor.
“Ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen kita dalam memajukan sektor kerajinan daerah, meningkatkan kreativitas perajin, serta mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Nursidah.
Dengan masa bakti hingga 2030, Dekranasda Kota Ternate menargetkan penguatan industri kecil menengah (IKM) secara berkelanjutan. Kolaborasi dengan Bank Indonesia juga akan diperkuat untuk pembinaan perajin dan pemasaran produk lokal agar bisa bersaing di pasar yang lebih luas.