TERNATE — Terminal Peti Kemas (TPK) Ternate, yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, memacu perbaikan layanan operasional untuk memastikan rantai pasok barang ke 10 kabupaten dan kota di Maluku Utara tidak terganggu. Pelabuhan ini menjadi gerbang utama masuknya kebutuhan pokok, material bangunan, hingga barang industri untuk wilayah yang tersebar di gugusan kepulauan.
Langkah peningkatan ini mencakup percepatan waktu bongkar muat, pemeliharaan alat berat secara berkala, dan pengoptimalan sistem penumpukan peti kemas. Manajemen TPK Ternate menyadari, keterlambatan di pelabuhan bisa memicu lonjakan harga barang di daerah-daerah seperti Halmahera Timur, Pulau Morotai, atau Kepulauan Sula.
Mengapa Pelabuhan Ternate Jadi Tulang Punggung Distribusi?
Maluku Utara merupakan provinsi kepulauan dengan medan logistik yang menantang. Sebagian besar kebutuhan masyarakat dan industri—terutama sektor pertambangan nikel dan perikanan—masuk melalui Pelabuhan Ternate. Dari sini, barang didistribusikan menggunakan kapal-kapal pengumpan ke pelabuhan-pelabuhan kecil di daerah terpencil.
Kepala Cabang Pelindo Ternate, yang enggan disebutkan namanya dalam rilis resmi, menyatakan bahwa TPK terus berkoordinasi dengan para pengguna jasa. “Kami ingin memastikan tidak ada antrean panjang kapal yang merugikan pengusaha dan konsumen akhir. Setiap peningkatan jam kerja dan perawatan alat berdampak langsung pada biaya logistik yang ditanggung masyarakat,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima media.
Layanan yang Ditingkatkan: dari Kecepatan hingga Keamanan
Beberapa aspek yang menjadi fokus perbaikan di TPK Ternate antara lain:
- Waktu bongkar muat: Target percepatan dari rata-rata 25 menjadi 20 peti kemas per jam untuk kapal besar.
- Alat berat: Penggantian suku cadang rubber-tired gantry crane (RTG) dan head truck yang mulai aus.
- Sistem informasi: Pembaruan aplikasi pelacakan peti kemas agar pengguna jasa bisa memonitor posisi barang secara real-time.
Perbaikan ini juga mencakup penambahan petugas shift malam untuk mengurai penumpukan di jam sibuk. Langkah serupa sebelumnya dilakukan pada tahun 2023 dan berhasil menekan dwelling time atau waktu tunggu peti kemas di pelabuhan.
Apa Dampaknya bagi Harga Sembako di Daerah?
Kelancaran di TPK Ternate berpengaruh langsung terhadap stabilitas harga, terutama menjelang hari besar keagamaan atau musim panen di daerah konsumen. Jika barang tertahan di pelabuhan, biaya tambahan akan dibebankan ke harga jual di tingkat pengecer.
“Distribusi yang cepat berarti ongkos angkut lebih murah. Ini penting untuk menekan inflasi di daerah-daerah yang aksesnya sulit,” kata seorang pengamat logistik Universitas Khairun Ternate yang dihubungi secara terpisah.
TPK Ternate sendiri mencatat volume peti kemas yang ditangani sepanjang 2024 mencapai lebih dari 50.000 TEUs (twenty-foot equivalent units). Angka ini diproyeksikan meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan proyek pembangunan infrastruktur di Maluku Utara.
Bagaimana Nasib Pelabuhan Kecil di Maluku Utara?
Meski TPK Ternate menjadi andalan, pemerintah daerah terus mendorong optimalisasi pelabuhan lain seperti Pelabuhan Sofifi di Halmahera Tengah dan Pelabuhan Babang di Halmahera Selatan. Namun, untuk saat ini, Ternate masih menjadi simpul utama yang menentukan ritme distribusi logistik di provinsi tersebut.
Manajemen Pelindo memastikan peningkatan layanan di TPK Ternate akan berlangsung secara bertahap hingga akhir tahun ini. Evaluasi berkala dilakukan bersama pengguna jasa untuk memastikan target tercapai tanpa mengorbankan aspek keselamatan pelayaran.