Pencarian

Laba Krakatau Steel dan Kimia Farma Berbalik Positif, Danantara Belum Bisa Diklaim Jadi Pemicu Utama

Kamis, 13 Agustus 2026 • 12:54:01 WIB
Laba Krakatau Steel dan Kimia Farma Berbalik Positif, Danantara Belum Bisa Diklaim Jadi Pemicu Utama
Grafik kinerja keuangan BUMN semester I 2026 menunjukkan tren positif di tengah proses transformasi.
pasar dinilai turut berperan. Pembalikan arah laba Krakatau Steel dan Kimia Farma menjadi sorotan utama di tengah geliat transformasi BUMN. ISI:

MALUKU UTARA — Laporan keuangan semester I 2026 yang dirilis Rabu (12/8/2026) menunjukkan tren positif di tubuh perusahaan pelat merah. PT Timah membukukan laba bersih Rp2,71 triliun, melonjak tajam dari Rp300 miliar pada periode yang sama tahun lalu. PT Pupuk Indonesia juga mencatat laba Rp8,51 triliun, tumbuh 253 persen secara tahunan.

Kinerja moncer juga datang dari sektor jasa keuangan. Bank Mandiri membukukan laba Rp30,41 triliun atau naik 24,3 persen, sementara BTN mencatat pertumbuhan 40,8 persen menjadi Rp2,40 triliun. Di sektor logistik, Pelindo mengantongi laba Rp2,57 triliun, naik 60,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Krakatau Steel dan Kimia Farma Bangkit dari Kubangan Rugi

Kabar paling mengejutkan datang dari dua BUMN yang sebelumnya terpuruk. PT Krakatau Steel berhasil membalikkan kerugian Rp1,74 triliun menjadi laba sekitar Rp150 miliar hingga Rp185 miliar. PT Kimia Farma juga mencatatkan laba Rp54,07 miliar, berbanding terbalik dengan rugi Rp135,61 miliar pada semester I 2025.

Pembalikan arah ini memicu pertanyaan besar: apakah buah dari efisiensi struktural Danantara atau sekadar faktor musiman? Managing Partner BUMN Research Group LM FEB UI, Toto Pranoto, menilai kinerja solid masih ditopang oleh BUMN blue chips yang menjadi motor penggerak pendapatan negara.

"Kinerja solid masih ditunjukkan BUMN blue chips yang sedari dulu menjadi motor penggerak revenue dan profit total BUMN. Misal kinerja Himbara di sektor perbankan, sektor mineral dan hasil tambang, sektor telco dan Pertamina," ujar Toto di Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Danantara Belum Bisa Diklaim sebagai Pemicu Utama

Meski angka pertumbuhan terlihat menggembirakan, para analis menilai masih terlalu dini mengaitkan lonjakan laba ini dengan efektivitas Danantara. Setiap BUMN memiliki karakter bisnis dan kondisi pasar yang berbeda. Kenaikan laba PT Timah, misalnya, lebih banyak dipengaruhi oleh harga dan produksi komoditas timah global, bukan semata-mata hasil restrukturisasi internal.

Demikian pula dengan kinerja perbankan seperti Bank Mandiri dan BTN yang bergantung pada kondisi kredit, kualitas aset, dan pendapatan bunga. Sementara itu, pembalikan laba Krakatau Steel dan Kimia Farma perlu diuji lebih jauh. Apakah berasal dari perbaikan operasional yang berkelanjutan atau faktor nonberulang seperti penjualan aset.

Efisiensi Struktural Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Toto Pranoto menegaskan bahwa penataan dan konsolidasi BUMN perlu dilanjutkan agar efisiensi perusahaan negara semakin meningkat. Ia berharap proses streamlining tidak berhenti pada konsolidasi struktur, tetapi juga berdampak pada perbaikan kinerja operasional di lapangan.

"Harapan saya supaya proses streamlining BUMN bisa dipercepat sehingga perbaikan kinerja bisa lebih cepat dilaksanakan," katanya.

Danantara yang dibentuk pemerintah sebagai lembaga pengelola aset BUMN memang menempatkan konsolidasi, efisiensi, dan perbaikan tata kelola sebagai agenda utama. Namun, dampak langsung kebijakan tersebut baru bisa terukur dalam beberapa periode ke depan. Terutama dari sisi efisiensi, produktivitas, arus kas, dan keberlanjutan laba.

Kenaikan laba semester I 2026 setidaknya menjadi indikator awal perbaikan. Publik perlu menunggu konsistensi kinerja pada semester berikutnya untuk menilai apakah transformasi BUMN benar-benar berhasil atau sekadar momentum pasar yang menguntungkan.

Follow kabarternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: afu.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks