SOFIFI — Sosok Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Maluku Utara, Irjen Pol Waris Agono, meninggalkan kesan mendalam di tengah masyarakat. Pendekatan humanis yang ia usung selama menjabat dinilai tidak hanya memperkuat hubungan institusi kepolisian dengan warga, tetapi juga membawa perubahan pada pola penanganan berbagai persoalan sosial di daerah.
Salah satu hal yang paling dikenang adalah kebiasaan Waris turun langsung ke lapangan. Ia kerap menyambangi kampung-kampung, berdialog dengan nelayan, petani, hingga pelaku UMKM tanpa jarak formal. "Beliau ini tipikal pemimpin yang mau mendengar. Bukan cuma datang, foto, lalu pergi," ujar seorang tokoh masyarakat di Ternate, mengutip kesan yang beredar di kalangan warga.
Pendekatan ini membuat banyak persoalan yang biasanya diselesaikan secara prosedural birokratis, justru bisa diurai lewat dialog langsung. Warga merasa memiliki akses untuk menyampaikan keluhan, terutama terkait keamanan lingkungan dan masalah sosial lainnya.
Di sisi lain, Waris juga dikenal tidak segan membenahi internal institusi. Ia mendorong agar setiap anggota kepolisian di Maluku Utara lebih responsif dan tidak alergi terhadap kritik. Beberapa kali ia menegaskan bahwa pelayanan publik adalah prioritas utama, bukan sekadar pencitraan.
Pembenahan ini disebut berdampak pada peningkatan kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian di wilayah yang kerap dihadapkan pada tantangan geografis berupa kepulauan tersebut. Jarak antar pulau yang jauh dan medan yang sulit tidak lagi menjadi alasan untuk pelayanan yang lambat.
Dampak paling nyata dari kepemimpinan humanis Waris adalah rasa aman yang lebih terasa di beberapa titik rawan konflik sosial. Warga di Halmahera dan sekitarnya mengaku polisi lebih sering hadir di tengah mereka, bukan hanya saat terjadi keributan. "Dulu kami takut lapor, sekarang malah polisi yang jemput bola," kata seorang pedagang di Sofifi.
Jejak yang ditinggalkan Irjen Waris Agono menjadi catatan penting bagi kepemimpinan selanjutnya. Standar kedekatan dengan rakyat yang sudah terbangun menjadi ekspektasi baru yang harus dijaga oleh penerusnya di Maluku Utara.