MALUKU UTARA — Kenaikan ini melanjutkan tren penguatan harga emas dalam sepekan terakhir. Sejak awal Mei, harga emas Antam telah mengakumulasi kenaikan lebih dari Rp 50.000 per gram, didorong oleh ketidakpastian ekonomi global dan ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Harga Buyback Ikut Terkerek ke Rp 2,754 Juta
Bersamaan dengan kenaikan harga jual, harga buyback atau harga yang diterima saat menjual emas batangan ke Antam juga naik. Buyback hari ini dipatok Rp 2,754 juta per gram, lebih tinggi Rp 15.000 dari level kemarin.
Selisih antara harga jual dan buyback—yang mencerminkan margin Antam—saat ini berada di kisaran Rp 105.000 per gram. Angka ini relatif stabil dalam beberapa hari terakhir.
Ukuran Sertifikat 250 Gram Paling Ekstrem, Naik Rp 4 Juta
Untuk pecahan besar, kenaikan nominalnya lebih terasa. Berikut rincian harga emas Antam untuk beberapa ukuran hari ini:
- 1 gram: Rp 2.859.000
- 10 gram: Rp 26.585.000
- 50 gram: Rp 132.120.000
- 250 gram: Rp 659.315.000 (naik Rp 4 juta dari hari sebelumnya)
- 500 gram: Rp 1.317.820.000
Antam juga menyediakan emas batangan hingga ukuran 1.000 gram yang dibanderol Rp 2.634.600.000 per keping.
Faktor Pendorong: Dolar Melemah, Spekulasi The Fed
Pergerakan harga emas domestik tak lepas dari tekanan eksternal. Indeks dolar AS (DXY) terpantau turun 0,3 persen dalam 24 jam terakhir, membuat emas—yang dihargai dalam dolar—semakin murah bagi pemegang mata uang lain.
Di pasar global, harga emas spot bergerak di kisaran USD 2.350 per troy ounce. Investor masih mencermati data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini sebagai sinyal arah suku bunga The Fed. Semakin cepat pemangkasan suku bunga terjadi, semakin positif bagi emas karena biaya oportunitas memegang logam mulia berkurang.
Investor Lokal Masih Dominan, Harga Premium Bertahan
Di pasar domestik, harga emas Antam kerap diperdagangkan dengan premi dibandingkan acuan global. Selisih ini mencerminkan biaya logistik, pajak, dan permintaan fisik yang solid dari investor ritel Indonesia.
“Permintaan masih cukup kuat, terutama dari investor yang mencari lindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan rupiah,” ujar analis komoditas dari salah satu perusahaan sekuritas. Ia menambahkan bahwa harga buyback yang tinggi juga membuat emas tetap likuid sebagai instrumen investasi.
Investasi mengandung risiko. Harga emas dapat berfluktuasi sewaktu-waktu.