MALUKU UTARA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka membantah anggapan bahwa pelemahan pasar saham disebabkan oleh memburuknya indikator makroekonomi. Ia justru menyoroti beredarnya isu yang menyebut lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) akan menurunkan peringkat kredit Indonesia sebagai pemicu utama kepanikan investor.
"Banyak isu-isu negatif. Ada rumor S&P akan mendowngrade (peringkat kredit Indonesia). Padahal saya baru mau ketemu nanti malam," ujar Purbaya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6).
Fundamental Ekonomi Dinilai Solid, Pajak Masih Tumbuh
Purbaya menegaskan bahwa fondasi ekonomi nasional tetap kokoh. Ia merujuk pada penerimaan pajak yang masih menunjukkan pertumbuhan positif pada Mei sebagai bukti utama. Ia juga menepis kekhawatiran soal inflasi yang menjadi momok pasar.
"Fundamental ekonomi bagus. Pendapatan pajak di Mei aja masih kencang. Inflasi di kisaran 3 persen itu masih dalam target Bank Indonesia 2,5 persen plus minus 1 persen. Enggak ada masalah," jelasnya.
Menurut Purbaya, daya beli masyarakat juga masih terjaga. Ia mencontohkan aktivitas ekonomi di berbagai daerah yang tetap ramai, mulai dari tempat hiburan hingga hotel, sebagai indikator bahwa permintaan domestik masih kuat.
Sentimen Pasar Jangka Pendek vs Realitas Ekonomi
Purbaya mengakui bahwa pelemahan IHSG lebih merupakan ketakutan jangka pendek pelaku pasar dibandingkan cerminan kondisi riil. Namun, ia enggan memprediksi level indeks ke depan. Pemerintah, kata dia, akan fokus menjaga sentimen pasar dan memastikan fundamental tetap solid.
"Kalau nanya level enggak tahu. Saya bilang enggak usah takut. Kita akan pastikan lagi semuanya lebih baik, termasuk menjaga sentimen pasar," ujar Purbaya.
Fakta Singkat Pergerakan IHSG Rabu (3/6)
- IHSG ditutup di level 5.941, melemah 254,36 poin atau 4,11% dari perdagangan sebelumnya.
- Total transaksi mencapai Rp25,21 triliun dengan volume 40,06 miliar saham.
- Sebanyak 692 saham ditutup melemah, hanya 69 saham menguat, dan 54 saham stagnan.
Meskipun data perdagangan menunjukkan tekanan jual yang masif, pernyataan Menkeu setidaknya memberikan sinyal bahwa pemerintah tidak melihat adanya masalah struktural. Pertanyaan selanjutnya bagi investor adalah bagaimana kredibilitas rumor downgrade S&P tersebut akan terverifikasi dalam waktu dekat.