MALUKU UTARA — Pendanaan itu akan digunakan untuk menggarap PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Sumatera Selatan, serta PLTP Lahendong Unit 7–8 di Sulawesi Utara. Total kapasitas terpasang dari ketiga proyek ini mencapai 160 megawatt (MW).
Pinjaman Lunak dari JICA dan Bank Dunia
Berdasarkan data Green Book 2026, pendanaan terbesar datang untuk PLTP Lahendong Unit 7–8 senilai US$170,04 juta yang bersumber dari Bank Dunia. Sementara dua unit PLTP Lumut Balai mendapatkan pinjaman dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan total US$307,83 juta. Skema yang digunakan adalah concessional loan alias pinjaman lunak, yang memberikan suku bunga lebih atraktif dan tenor lebih panjang dibanding kredit komersial biasa.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan masuknya proyek ke dalam Green Book menjadi pengakuan atas kesiapan teknis, finansial, dan lingkungan yang telah dipenuhi. “Selain membuka peluang akses terhadap berbagai sumber pendanaan internasional, pencapaian ini juga meningkatkan visibilitas dan daya tarik proyek-proyek Perseroan di mata calon mitra strategis,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Laba Bersih Tembus US$43,9 Juta
Di sisi kinerja keuangan, PGE mencatatkan laba bersih US$43,90 juta pada kuartal I-2026, melesat 40 persen dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar US$31,35 juta. Pendapatan perusahaan juga naik 14,8 persen menjadi US$116,56 juta. Lonjakan ini didorong oleh produksi listrik yang memecahkan rekor sepanjang sejarah pada 2025, yakni 5.095 GWh, dan berlanjut pada kuartal I-2026 yang tumbuh 15,22 persen secara tahunan.
Pertumbuhan produksi yang konsisten ini memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek bisnis PGE. Ahmad Yani optimistis penguatan fundamental bisnis akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan dan mendukung agenda transisi energi nasional.
Target COD 2030–2032
PLTP Lumut Balai Unit 3 ditargetkan beroperasi komersial (commercial operation date/COD) pada 2030, disusul Unit 4 pada 2032. Sedangkan PLTP Lahendong Unit 7–8 ditargetkan COD pada 2030. Ketiga proyek ini sudah memiliki Power Purchase Agreement (PPA) yang memperkuat prospek pengembangannya. Setelah beroperasi, proyek-proyek ini akan menambah pasokan listrik rendah emisi dan memperkuat peran panas bumi dalam bauran energi nasional.
Capaian ini merupakan bagian dari roadmap PGE untuk mengembangkan potensi panas bumi hingga 3 GW ke depan. Dengan pendanaan yang sudah terkunci, perusahaan bisa mempertahankan struktur biaya utang yang kompetitif sekaligus meningkatkan keekonomian proyek dalam jangka panjang.