MALUKU UTARA — PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) tengah membuka peta ekspansi besar-besaran. Perusahaan yang dikuasai oleh konglomerat Happy Hapsoro ini mengincar aset minyak dan gas bumi (migas) di luar negeri, mulai dari Malaysia, Thailand, Australia, hingga Irak dan Amerika Serikat.
Chief Financial Officer (CFO) RATU, Adrian Hartadi, mengatakan strategi akuisisi menjadi satu-satunya jalan untuk pertumbuhan anorganik. “Karena that's the only way buat inorganic growth buat RATU-nya sendiri. Karena kita mau membawa growth ke equity investor juga,” ujarnya dalam siniar bersama Samuel Sekuritas, Selasa (9/6).
Namun, proses negosiasi masih menemui ganjalan. Menurut Adrian, banyak pemilik aset mematok valuasi dengan asumsi harga minyak di kisaran US$ 100 per barel. Sementara RATU menilai harga yang lebih realistis dan berkelanjutan ada di rentang US$ 60-70 per barel.
“Makanya saat ini kita sudah diskusi dengan seller, tapi masih menunggu momen itu mungkin ketika oil price itu turun. Jadi mereka lebih stabil,” kata Adrian.
Kolaborasi dengan ExxonMobil hingga Sinopec
Di dalam negeri, RATU juga memperkuat posisi dengan menggandeng perusahaan energi global. Adrian menyebut perseroan saat ini terlibat dalam proyek bersama ExxonMobil, PetroChina, dan raksasa BUMN energi China, Sinopec. Kolaborasi ini tidak hanya soal bisnis, tetapi juga transfer teknologi.
“Kami bisa belajar dari pengalaman dan keahlian mereka. Nantinya pengetahuan itu dapat kami terapkan pada lapangan migas yang lebih kecil dan berkembang secara bertahap menjadi lebih besar,” ujar Adrian.
Blok Kasuri, Madura Strait, dan Jabung Jadi Penopang
Selain memburu aset baru, RATU juga menggenjot portofolio eksisting. Perseroan baru saja mengakuisisi 5% participating interest (PI) di Blok Kasuri, Papua Barat, yang memiliki cadangan gas sekitar 2,4 triliun kaki kubik (TCF). Proyek ini masih menunggu persetujuan Kementerian ESDM dan ditargetkan mulai berproduksi pada kuartal IV 2027.
“Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, kontribusi dari Kasuri sudah mulai masuk ke kinerja keuangan perseroan pada akhir 2027,” kata Adrian.
Sementara itu, kontrak RATU di Blok Madura Strait akan berakhir pada Oktober 2032. Perseroan tengah membahas perpanjangan kontrak dan skema pengelolaan pasca-2032 bersama pemerintah. Adrian melihat struktur energi Indonesia mulai bergeser dari minyak ke gas bumi, dan potensi sumber daya nasional lebih banyak di sektor gas.
Di sisi keuangan, RATU menargetkan laba bersih US$ 26,75 juta pada 2026, naik dari US$ 15,2 juta tahun sebelumnya. Pendapatan diperkirakan stabil di kisaran US$ 51 juta, dengan kontribusi utama dari partisipasi di Blok Jabung dan pendapatan investasi dari aset-aset migas yang telah dimiliki.