MALUKU UTARA — Sebelum KNI hadir, seluruh kebutuhan amonium nitrat nasional harus dipenuhi lewat impor. Bahan baku utama peledak industri tambang ini menjadi celah kerentanan struktural, tidak hanya bagi sektor pertambangan, tetapi juga pertanian dan pertahanan. Ketergantungan itu menciptakan risiko gangguan pasokan dan waktu tunggu yang lama, menghambat operasi di lapangan.
Pabrik di Bontang, Tenaga Kerja Lokal Jadi Andalan
Fasilitas produksi KNI di Bontang memiliki kapasitas terpasang 366 kiloton per tahun. Uniknya, 85% dari total tenaga kerja yang menggerakkan pabrik ini adalah warga lokal Bontang. Langkah itu sekaligus menjadikan KNI sebagai salah satu penggerak ekonomi di Kalimantan Timur, melalui serapan tenaga kerja, pengadaan barang dan jasa lokal, serta investasi sosial kemasyarakatan.
Direktur Utama Kaltim Nitrate Indonesia, Twedy Nasution, menegaskan bahwa capaian ini adalah bukti kemampuan industri strategis nasional. "KNI menunjukkan apa yang mampu dicapai Indonesia di sektor industri strategis, dengan mengubah ketergantungan terhadap impor menjadi pasokan domestik yang andal," ujarnya.
Dari Pasokan Domestik ke Pasar Global
Kehadiran KNI tidak hanya menghilangkan waktu tunggu impor dan risiko gangguan pasokan yang dulu kerap menghambat operasi peledakan tambang domestik. Lebih dari itu, perusahaan ini berhasil menempatkan Indonesia di peta eksportir amonium nitrat dunia. Group Executive dan President Asia Orica, Rajkumar Mathiravedu, menyebut KNI kini menjadi acuan kapabilitas dan ketahanan industri di Asia.
"KNI telah menjadi acuan bagi kapabilitas dan ketahanan industri di Asia, menunjukkan bagaimana sebuah negara dapat memperkuat pasokan domestiknya sekaligus bersaing di pasar internasional," kata Rajkumar.
Fase Berikutnya: Hilirisasi dan Ketahanan Pasokan
Memasuki fase operasi selanjutnya, KNI berkomitmen untuk terus mendukung pertumbuhan sektor pertambangan dan agenda hilirisasi Indonesia. Perusahaan juga menargetkan peningkatan kinerja lingkungan serta memperkuat ketahanan pasokan jangka panjang untuk pasar domestik. Langkah ini memastikan bahwa capaian selama 25 tahun tidak hanya menjadi catatan sejarah, melainkan fondasi bagi kemandirian industri strategis di masa depan.
Bagi Twedy, kebanggaan terbesarnya bukanlah jumlah tonase yang diproduksi. "Melainkan tim Indonesia di Bontang yang memungkinkan setiap ton tersebut terwujud," pungkasnya.