TERNATE — Usia 60 tahun IAIN Ternate yang dirayakan hari-hari ini harus dimaknai sebagai tindakan kolektif untuk merancang masa depan, bukan sekadar mengenang peristiwa 60 tahun silam. Perayaan ini justru menjadi pengingat bahwa eksistensi kampus saat ini adalah hasil karya manusia yang hadir sebelum generasi sekarang, serupa kompleks pekuburan yang tetap "berbicara" meski penghuninya tak dikenal.
Agus SB menjelaskan, ingatan kolektif tentang kelahiran institut ini nyaris tidak ada. Jejak sejarah hanya terbantu oleh sekitar 20 lembar dokumen catatan ketika Fakultas Tarbiyah di Ternate diresmikan sebagai bagian dari filial IAIN Ujungpandang pada 1966.
Kesadaran Waktu Rangkap Tiga dalam Perayaan Dies Natalis
Menurut Agus, manusia memiliki kesadaran waktu rangkap tiga: masa kini adalah masa depan dari masa lalu, dan masa kini adalah masa lalu dari masa depan. Kebermaknaan masa lalu terekspresikan oleh kompleks kampus IAIN Ternate yang berdiri saat ini, namun merayakan usia bukan berarti merayakan masa lalu itu sendiri.
"Perayaan mengatakan dan mengingatkan bahwa kita berutang jasa kepada mereka yang di masa lalu telah menghadirkan institut ini," ujarnya. Utang jasa tersebut disebutnya takkan pernah dapat dilunasi oleh siapa pun, sebagaimana imbalan pahala terhadap amal jari'ah para pendiri takkan pernah selesai selama institut ini survive.
Perjalanan Panjang Transformasi dari 1966 hingga 2013
Keberadaan IAIN Ternate saat ini telah melewati tiga periode besar: Fakultas Tarbiyah pada 1966, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ternate pada 1997, dan menjadi IAIN Ternate pada 2013. Dalam setiap periode tersebut, silih berganti orang-orang berdedikasi mengabdikan hidupnya pada ilmu pengetahuan.
Agus menekankan bahwa selalu ada jerih orang-orang berdedikasi yang keras kepala, menerjang hambatan, dan meraih peluang dalam mentransformasi institut. Semua sivitas akademika hari ini berutang jasa terhadap mereka, dan utang itu hanya dapat dibayar dengan jasa yang didedikasikan terhadap institut.
Keberlanjutan Institut Bukan Tanggung Jawab Satu Orang
Keberlanjutan IAIN Ternate tidak dapat dipikul satu orang, meskipun ada satu orang yang diserahi tanggung jawab untuk menyatukan semua elemen sivitas akademika dalam gerak orkestrasi yang harmonis. Apapun retorika visinya, kebajikan adalah substansinya.
Masa depan institut direncanakan dan diwujudkan saat ini melalui ikhtiar dan komitmen dari semua elemen sivitas akademika dengan prinsip keteguhan: pele putus malintang patah. Agus mengingatkan agar tidak ada yang ingin menjadi saksi kematian institut akibat penyakit malas berpikir secara kolektif di tengah persaingan antarperguruan tinggi.
"Kepada semua kita berlaku pepatah 'di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung'," tutupnya. Selamat merayakan 60 Tahun IAIN Ternate, enam puluh tahun telah dan berkelanjutan berkhidmat kepada kebajikan.