HALMAHERA — Keinginan kuat untuk membuktikan catatan sejarah Alfred Russel Wallace membawa Prof. Bill Carter menembus rimbunnya hutan tropis di Maluku Utara. Pemandangan burung endemik yang dijuluki salah satu yang tercantik di dunia itu menari di balik kanopi langsung terbayar lunas setelah penantian panjang.
“Hari ini, penantian panjang itu lunas. Kami bisa menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri burung yang ratusan tahun lalu sangat dipuji oleh Wallace,” ujar Prof. Bill di sela-sela kunjungannya dengan nada penuh keharuan.
Misi Ilmiah di Balik Ketertarikan pada Garis Wallace
Ketertarikan Prof. Bill bukanlah hal yang muncul tiba-tiba. Semuanya berakar dari buku legendaris The Malay Archipelago, karya naturalis dunia Alfred Russel Wallace. Dari literatur sejarah itulah ia pertama kali mendalami konsep Garis Wallace dan cerita keterpukauan Wallace terhadap burung yang kini berhasil ia lihat secara langsung.
Perjalanan jauh melintasi benua dilakukan untuk membuktikan keajaiban alam yang dulu hanya bisa dibaca lewat lembaran sejarah. Momen langka ini menjadi pembuktian krusial bagi kedua pakar lingkungan tersebut tentang betapa pentingnya menjaga kelestarian ekosistem hutan tropis Maluku Utara.
Sinergi Tim Lokal Kunci Sukses Ekspedisi
Keberhasilan ekspedisi berskala internasional ini tak lepas dari sinergi kuat dan pendampingan profesional tim lokal. Perjalanan Prof. Bill dan rekannya dikawal langsung oleh Azis Momanda, pemandu wisata dari Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Utara yang juga menjabat sebagai pengurus Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Maluku Utara, serta Tim Pemandu dari Balai Taman Nasional.
Kolaborasi apik antara Dinas Pariwisata & Ekonomi Kreatif Provinsi Maluku Utara, Kantor Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, dan HPI Malut ini memastikan seluruh rangkaian penjelajahan berjalan aman tanpa sedikit pun mengusik ekosistem asli satwa yang dilindungi tersebut.
Sinyal Kuat bagi Ekowisata Maluku Utara
Langkah mantap Prof. Bill Carter di bumi Halmahera kini menjadi sinyal kuat bahwa Maluku Utara tak sekadar siap menyambut pariwisata berbasis lingkungan (eco-tourism) berskala global. Kawasan ini juga makin memperkokoh posisinya sebagai destinasi premium bagi para peneliti dan pencinta alam dari seluruh penjuru dunia.
Kehadiran akademisi terkemuka yang kerap mengajar mahasiswa pariwisata Indonesia dalam program short course di Australia ini diharapkan mampu membuka mata dunia akan potensi besar yang tersimpan di hutan-hutan Maluku Utara.