TERNATE — Fort Oranje bukan sekadar peninggalan masa kolonial yang berdiri kokoh di pusat Kota Ternate. Bagi Pemerintah Kota Ternate, benteng bersejarah ini kini dijadikan simbol kebangkitan bersama dalam upaya merawat warisan budaya di tengah derasnya arus perkembangan zaman.
Hal tersebut mengemuka dalam pembukaan Rakernas JKPI ke-XII yang sengaja digelar di pelataran Fort Oranje. Pemilihan lokasi ini dinilai tepat karena benteng tersebut menyimpan banyak cerita tentang perjalanan panjang sejarah Ternate sebagai salah satu kota pusaka di Indonesia.
Benteng Bersejarah Disulap Jadi Ruang Kreativitas Anak Muda
Rizal Marsaoly menjelaskan, Fort Oranje memiliki tiga elemen kekuatan utama yang bisa dioptimalkan, yakni ruang, komunitas, dan kreativitas. Ketiga elemen ini dinilai menjadi satu kesatuan yang mampu menghidupkan kembali kawasan bersejarah melalui beragam aktivitas komunitas.
“Ini menjadi hub kreatif bagi teman-teman komunitas. Kekuatan dari benteng ini adalah bagaimana ruang yang tercipta, ide yang ada, kemudian kreativitas yang dilahirkan oleh teman-teman generasi muda menjadi satu wadah untuk kolaborasi dan sinergi,” jelasnya di lokasi acara.
Menurutnya, kawasan cagar budaya seperti Fort Oranje tidak boleh hanya dipandang sebagai objek wisata sejarah yang pasif. Ruang tersebut justru harus dihidupkan dengan kegiatan positif yang melibatkan generasi muda agar nilai-nilai sejarah tetap relevan.
40 Kepala Daerah Dipastikan Hadir di Ternate
Momentum Rakernas JKPI 2026 ini diharapkan menjadi ruang bagi para kepala daerah untuk saling bertukar gagasan terkait upaya pelestarian pusaka, budaya, dan sejarah di wilayah masing-masing. Dari total 79 kepala daerah yang tergabung dalam JKPI, lebih dari 40 orang telah mengonfirmasi kehadirannya.
“Dari total 79 kepala daerah yang masuk dalam keanggotaan JKPI, yang sudah terkonfirmasi itu ada kurang lebih 40 sekian,” ungkap Rizal kepada wartawan di sela-sela acara.
Sebagian besar kepala daerah dan delegasi dijadwalkan tiba di Ternate pada Kamis pagi. Sementara itu, sejumlah kepala daerah yang berhalangan hadir akan diwakili oleh wakil kepala daerah, sekretaris daerah, maupun kepala dinas yang membidangi kebudayaan dan pariwisata.
Perwakilan Kedutaan Besar Belanda Turut Hadir
Kegiatan bergengsi tingkat nasional ini juga dihadiri oleh perwakilan Kedutaan Besar Belanda, termasuk attaché kebudayaan. Kehadiran mereka menambah dimensi internasional dalam diskusi pelestarian warisan kolonial yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.
Rizal menambahkan, pertemuan JKPI di Ternate diharapkan tidak berhenti pada agenda seremonial belaka. Pertemuan ini harus mampu menghasilkan langkah konkret dalam menjaga warisan budaya Indonesia, sekaligus memperkuat kolaborasi antardaerah.
“Kiranya Fort Oranje ini menjadi spirit bersama untuk bangkit bersama di antara anggota JKPI untuk kita bercerita tentang pelestarian kebudayaan di Indonesia,” pungkasnya.