MALUKU UTARA — Suara gamelan Bali berpadu dengan aroma dupa dan bunga melati saat ribuan warga berjalan khidmat mengelilingi Pura Tanah Lot. Mereka membawa gebogan—susunan buah dan bunga menjulang yang disangga di atas kepala—dalam parade Mapeed yang menjadi salah satu atraksi budaya paling fotogenik di Pulau Dewata.
Parade ini bukan sekadar pertunjukan wisata. Mapeed adalah tradisi Hindu Bali untuk menghaturkan bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi, dengan simbol persembahan berupa gebogan yang merepresentasikan rasa syukur atas hasil bumi.
23 Desa Adat dan Kemegahan Gebogan
Sebanyak 23 desa adat dari berbagai wilayah di Bali ambil bagian dalam festival ini. Setiap desa mengirimkan warga—didominasi perempuan—yang berjalan dalam formasi rapih sambil menyeimbangkan gebogan di kepala mereka.
Gebogan yang dibawa bukan sembarang hiasan. Tingginya bisa mencapai 60-80 sentimeter, tersusun dari buah-buahan lokal seperti salak, pisang, dan jeruk, dihiasi janur dan bunga kamboja. Semakin tinggi dan beragam isi gebogan, semakin besar rasa syukur yang ingin dipersembahkan.
Yang menarik, parade ini juga menampilkan seni tari tradisional dari masing-masing desa adat. Setiap kontingen membawa ciri khasnya sendiri—dari busana hingga iringan musik—menciptakan mozaik budaya yang utuh dalam satu kawasan suci.
Mengapa Parade Ini Spesial?
Berbeda dengan upacara keagamaan yang tertutup, parade Mapeed di Tanah Lot terbuka untuk wisatawan. Anda bisa menyaksikan dari dekat prosesi ini tanpa mengganggu jalannya ritual. Pemandangan paling dramatis terjadi saat peserta berjalan di tepi tebing dengan latar laut lepas Samudra Hindia.
Bagi fotografer, momen terbaik adalah saat matahari mulai condong ke barat. Cahaya keemasan menerpa gebogan dan pakaian adat, menciptakan kontras indah dengan air laut yang menghantam karang di bawah tebing.
Informasi Praktis Berkunjung ke Tanah Lot
Tanah Lot berada di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan—sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Denpasar atau 45 menit berkendara. Jika dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, waktu tempuh sekitar satu jam.
Tiket masuk kawasan Tanah Lot untuk wisatawan domestik Rp 30.000 per orang, sementara wisatawan mancanegara Rp 60.000. Harga ini sudah termasuk akses ke area pura dan lokasi parade. Jam operasional kawasan dibuka mulai pukul 06.00 hingga 19.00 WITA, namun saat ada upacara adat seperti Mapeed, jadwal bisa berubah.
Tips Menyaksikan Parade Mapeed
- Datang minimal satu jam sebelum parade dimulai untuk mendapatkan posisi terbaik di area barisan depan—biasanya panitia memasang garis pembatas.
- Kenakan pakaian sopan dan bawa selendang kain. Beberapa area dekat pura mewajibkan pengunjung mengenakan sarung.
- Hormati jalannya prosesi: jangan berjalan di tengah barisan peserta atau menyentuh gebogan tanpa izin.
- Bawa topi dan air minum—area Tanah Lot minim pepohonan rindang dan terik matahari cukup menyengat siang hari.
Parade Mapeed di Tanah Lot biasanya digelar beberapa kali dalam setahun, menyesuaikan kalender upacara Hindu Bali. Jika ingin menyaksikan edisi berikutnya, pantau akun media sosial resmi Pengelola Daya Tarik Wisata Tanah Lot atau hubungi Dinas Pariwisata Kabupaten Tabanan untuk konfirmasi jadwal terbaru.
Durasi ideal mengunjungi Tanah Lot adalah setengah hari—cukup untuk menikmati parade, menjelajahi kompleks pura, dan menutup sore dengan menyaksikan matahari terbenam dari titik pandang barat.