TERNATE — SMA Negeri 1 Ternate mencatat hasil berbeda pada pengumuman kelulusan tahun ini dengan tidak meluluskan seluruh siswanya. Satu orang siswa kelas XII dinyatakan tidak lulus karena dinilai tidak maksimal dalam mengikuti tahapan pembelajaran maupun asesmen yang ditetapkan sekolah.
Keputusan tersebut diambil melalui pertimbangan matang dan proses evaluasi internal yang cukup berat. Pihak sekolah menegaskan bahwa kelulusan bukan sekadar formalitas tahunan, melainkan bukti nyata dari pencapaian standar kompetensi siswa selama menempuh pendidikan.
"Secara ideal kami ingin semua siswa lulus dengan capaian yang baik. Namun karena yang bersangkutan tidak mengikuti proses dengan baik, maka dengan berat hati tidak dapat kami luluskan," ujar Kepala SMA Negeri 1 Ternate Sabaria Umahuk, Rabu (6/5/2026).
Alasan Sekolah Ambil Keputusan Berat
Langkah sekolah ini menjadi pembeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya mencatatkan kelulusan 100 persen. Sabaria menjelaskan bahwa integritas proses pembelajaran harus tetap dijaga agar siswa benar-benar siap menghadapi jenjang pendidikan berikutnya atau dunia kerja.
Meski dinyatakan tidak lulus, siswa tersebut tidak lantas kehilangan hak pendidikannya. Pihak sekolah memastikan tetap memberikan kesempatan bagi yang bersangkutan untuk memperbaiki catatan akademisnya dengan mengulang proses belajar di sekolah yang sama.
"Kami tetap menerima siswa tersebut untuk mengulang satu tahun di SMA Negeri 1 Ternate. Yang penting tidak putus sekolah, cukup melakukan lapor diri untuk kembali mengikuti pembelajaran," tambah Sabaria.
Transformasi Pendidikan dan Peran Orang Tua
Fenomena ini menjadi alarm bagi para wali murid untuk lebih terlibat dalam aktivitas akademik anak. Sabaria menekankan bahwa transformasi dunia pendidikan yang terus berkembang menuntut kesiapan mental dan kedisiplinan siswa yang lebih tangguh agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman.
Sekolah berharap orang tua tidak lagi sekadar menyerahkan urusan pendidikan sepenuhnya kepada guru di kelas. Pengawasan rutin di rumah menjadi variabel penentu agar siswa siap mengikuti seluruh tahapan pembelajaran, terutama saat menghadapi asesmen akhir.
"Ke depan kami berharap ada perhatian lebih dari orang tua untuk mengontrol dan mendampingi anak-anak dalam belajar, agar mereka siap mengikuti seluruh tahapan pembelajaran dan asesmen di sekolah," tegasnya.
Pihak sekolah mengimbau kepada orang tua siswa yang belum berhasil lulus agar tidak putus asa. Dukungan moral dari keluarga sangat dibutuhkan agar siswa tetap memiliki semangat untuk menuntaskan kewajiban belajarnya pada tahun depan.