MALUKU UTARA — Keputusan Mitsubishi melewati Indonesia untuk peluncuran perdana model listriknya ini menjadi sinyal nyata atas perubahan peta bisnis perusahaan. Alih-alih mengandalkan kawasan Asia Tenggara yang selama ini menjadi tulang punggung penjualan, Mitsubishi kini mengarahkan haluan ke Australia dan Amerika Serikat sebagai wilayah pemulihan utama.
Penjualan ASEAN Anjlok, Target Pertumbuhan Meleset
Kinerja Mitsubishi di ASEAN memang sedang tertekan. Pada kuartal terakhir, penjualan di kawasan ini merosot 7 persen, berbanding terbalik dengan proyeksi awal yang menargetkan pertumbuhan 10 persen. Kondisi ini diperparah dengan melemahnya daya beli akibat inflasi, kenaikan suku bunga, serta gempuran mobil listrik murah asal China.
CEO Mitsubishi Motors, Takao Kato, mengakui bahwa strategi sebelumnya terlalu terfokus pada produk untuk pasar ASEAN. "Dalam rencana jangka menengah sebelumnya, kami terlalu berfokus pada produk untuk pasar ASEAN," ujarnya dikutip Nikkei Asia, Senin (24/8). Penurunan di Asia Tenggara ikut menyeret total penjualan global perusahaan turun 8 persen menjadi 179 ribu unit kendaraan.
ASX VR-e Bukan Produksi Sendiri, Ini Pemasoknya
Menariknya, proyek ASX VR-e tidak dikerjakan sendiri oleh Mitsubishi. Model listrik ini dipasok oleh Foxtron Vehicle Technologies, unit bisnis otomotif milik raksasa elektronik Taiwan, Foxconn Group. Kemitraan berbasis original equipment manufacturer (OEM) ini tercatat sebagai yang pertama bagi anak usaha Foxconn dalam memproduksi kendaraan listrik untuk merek Jepang.
Keputusan menyerahkan produksi EV ke pihak ketiga diambil karena Mitsubishi memilih menghentikan pengembangan mobil listrik secara mandiri demi efisiensi biaya. Sumber daya perusahaan kini dialihkan untuk memperkuat segmen plug-in hybrid, sementara kebutuhan varian EV murni akan dipenuhi lewat pasokan dari produsen mitra.
Andalkan Nissan dan Honda untuk Pasar Amerika Serikat
Di Amerika Utara, Mitsubishi tidak tinggal diam. Tanpa pabrik manufaktur di kawasan tersebut, perusahaan menggandeng Nissan Motor dan Honda Motor untuk mengisi lini produk mereka secara berkala hingga 2030. Mulai paruh kedua 2026, Mitsubishi bakal mendatangkan kendaraan listrik berbasis Nissan Leaf.
Selain itu, pasokan mobil pikap buatan pabrik Nissan di Mississippi dijadwalkan meluncur pada 2029. Langkah ini ditempuh untuk menghindari tarif impor Amerika Serikat sekaligus memastikan pasokan produk tetap kompetitif di pasar yang dinilai lebih stabil.
Target Penjualan Global 850 Ribu Unit
Melalui perombakan strategi ini, Mitsubishi membidik penjualan global hingga 850 ribu unit pada tahun fiskal 2026. Amerika Utara diproyeksikan menjadi pundi-pundi profit yang stabil, mengingat penetrasi mobil listrik murah China di kawasan tersebut masih relatif terbatas dibandingkan di Asia Tenggara.
Pergeseran fokus ini menjadi catatan penting bagi konsumen Indonesia. Meski pasar ASEAN masih berkontribusi sekitar 30 persen dari total penjualan global Mitsubishi pada tahun fiskal 2025, arah pengembangan produk ke depan jelas tidak lagi menjadikan Indonesia sebagai prioritas utama untuk model listrik anyar.